Bung Hatta dan Sepatu Bally

Bung Hatta dan Sepatu Bally

  • Editor : yoyok
  • Monday, 09 July 2012
  • 03:00 pm

Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta tidak mampu membeli sepatu Bally. Kesederhanaan yang menggetarkan sukma.

Intisari-online.com - Seorang pria paruh baya duduk di kursi empuk ruang tunggu Bandara Internasional Adi Sucipto Yogjakarta. Dia tersenyum. Sebagai seorang petinggi pemerintahan kota, senyumnya tentulah harus berwibawa. Apalagi saat itu dia tengah menggandeng seorang wanita yang begitu menarik. Begitu mengundang hasrat.

Tapi mata ini justru tertarik memelototi sepatu yang dikenakannya. Benar-benar mengkilat saat kakinya disilangkan ke depan. Sepatu Bally, bro! Harganya Rp6 juta, kata dia. Dibeli di SOGO Jakarta. Di rumah, ujar dia, ada lebih dari empat pasang.

Ugh…ngomong-omong tentang sepatu Bally, ingatan ini mendadak teringat kepada kisah Bung Hatta dan sepatu Bally-nya. Pada tahun 1950-an, Bally sudah menjadi sebuah merek sepatu bermutu tinggi dan mahal harganya.

Bung Hatta, wakil presiden pertama RI, sangat berminat memilikinya. Tak sengaja dia membaca sebuah iklan sepatu Bally di sebuah koran yang mempromosikan tempat dijualnya sepatu idaman tersebut. Bung Hatta sangat ingin membelinya, tapi apa daya uang di kantungnya belum mencukupi.

Karena begitu kepengen akhirnya Bung Hatta menggunting potongan iklan tersebut. Siapa tahu ketika ada rezeki lebih nanti, tak perlu repot-repot mencari informasi di mana harus membeli sepatu itu di Jakarta.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi. Selalu saja terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Banyak orang yang tidak percaya, bahwa hingga sampai akhir hayatnya Hatta masih menyimpan guntingan iklan sepatu Bally tersebut, tanpa pernah mampu membelinya. Kertas usang itu menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta, sang proklamator, founding father republik ini.

Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Hatta.

Ketika dia meninggal, tak ada warisan harta dan kekayaan untuk anak keturunannya. Hatta hanya memastikan bahwa anak-anaknya mendapat pendidikan yang layak dan warisan keteladanan.

Iwan Fals yang begitu garang dalam mengkritik, sampai menangis ketika mendengar Hatta meninggal. Tangisnya itu kemudian mengejawantah menjadi sebuah lagu yang melegenda dan menggetarkan sukma. Hatta.

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa…Proklamator tercinta
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa…Rakyat Indonesia.
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi...
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat….Yang tak lepas dari namamu
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu...


Semoga setelah 67 tahun Indonesia merdeka, Tuhan mau memberikan hadiah orang seperti Hatta untuk memimpin republik terkasih ini. Duh, Tuhan dengarlah doa kami!!!

Author :

yoyok

Tags

#hatta

Komentar

Berita Terkait

Tidak Semua Saran Itu Baik dan Tidak Semua Kritik Itu

Kisah seekor keledai, seorang ayah, dan seorang anak tentang

Bagaimana Kepintaran dan Ketenangan Mampu Mengatasi

Kisah kepintaran banteng dalam menyelamatkan hidupnya dari

Posisi Kadang Lebih Menentukan daripada Keberanian

Kisah seekor kambing yang menikmati kebebasan hingga berada

Berita Lainnya

Genggamlah Tangan Orang yang Kita Cintai Tanpa

Kisah ayah dan anak yang berpegangan tangan.

Tidak Ada Permusuhan yang Tidak Dimaafkan oleh

Tidak ada permusuhan yang tidak dapat dimaafkan oleh

Berjuang Agar Menjadi Kuat, Jangan Hanya Menerima Belas

Kisah perjuangan kupu-kupu memberi inspirasi bahwa

Bila Bekerja Sama, Tak Satu pun Merasa Berjasa

Bila saling bekerja sama, maka tak satu pun pantas merasa