Hati-hati Diabetes Pada Anak

Hati-hati Diabetes Pada Anak

  • Editor : K. Tatik Wardayati
  • Wednesday, 22 June 2011
  • 03:15 pm

Anak yang gemuk biasanya membuat orangtua senang. Selain lucu dilihat, anak tersebut tidak merepotkan dalam hal memberi makan. Tapi hati-hati! Ternyata obesitas bisa berisiko terhadap kesehatan lo.

Dulu punya anak yang badannya gemuk, banyak orangtua yang senang. “Ih, lucu ya anaknya gemuk banget”. Begitu sebagian komentar orang yang berpapasan. Tapi hati-hati lo ternyata gemuk bukan hanya lucu tapi bisa berisiko terhadap kesehatannya.

“Obesitas (kegemukan) merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling serius di abad ini. Dan sudah menjadi masalah selama lebih dari 25 tahun. Amerika Serikat menduduki peringkat tertinggi dalam masalah obesitas ini,” demikian diungkapkan dr. Aman Pulungan, Sp.A (K), konsultan endokrinologi anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM dalam presentasinya beberapa waktu lalu.

Obesitas bukan hanya masalah estetika saja, tapi bisa karena gen dan lingkungan, pola makan yang tidak memenuhi gizi seimbang, dan kurangnya aktivitas. Diperlukan pencegahan pada anak supaya tidak menjadi obesitas dan kalau sudah terjadi, pengobatan harus diberikan supaya anak tersebut tidak menderita penyakit lain akibat obesitas.

Konsekuensi yang harus diterima oleh anak obesitas adalah resistensi insulin, suatu kondisi ketika sensitivitas insulin menurun. Sensitivitas insulin adalah kemampuan dari hormon insulin menurunkan kadar glukosa darah dengan menekan produksi glukosa hepatik dan menstimulasi pemanfaatan glukosa di dalam otot skelet dan jaringan adiposa.

Resistensi insulin dapat menyebabkan:

  • Intoleransi glukosa
  • Gangguan metabolisme melemak
  • Hipertensi
  • Polycystic Ovary Syndrome (POS)
  • Akhinya menjadi Diabetes Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2)

Sementara data menyebutkan bahwa 25% anak obesitas menunjukkan gejala intoleransi glukosa. Data dari American Diabetes Association 2010 menunjukkan bahwa 1 dari 400-600 anak dan remaja dijumpai DM Tipe 1 dan sama dengan prevalensi untuk DM Tipe 2. Dua juta (atau 1 dari 6 remaja obes) umur 12 – 19 tahun sudah dalam tahap pre-diabetes.

Di Indonesia, pasien DM Tipe 1 pada awal pendataan Mei 2009 berjumlah 156 pasien, dengan 86 perempuan dan 70 laki-laki. Data hingga April 2011 menunjukkan peningkatan yaitu menjadi 609 pasien, dengan perincian 356 perempuan dan 253 laki-laki. Sementara pasien DM Tipe 2 yang terdata sebanyak 30 pasien, 13 perempuan dan 17 laki-laki.

Untuk itulah dr. Aman Pulungan, Sp. A. (K), menyarankan jika dijumpai tanda mencurigai pada anak sebaiknya dilakukan penapisan sindrom metablik dan diabetes. Penapisan sangat membantu dalam diagnosis dan tata laksana dini pada pasien.

Bila seorang anak diketahui secara dini menderita DM Tipe 2, kemudian selama 20 bulan dipantau terus gula darahnya, pola makan mengikuti pola gizi seimbang dengan kebutuhan kalori per hari harus dihitung dengan memperhatikan usia, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, serta olahraga yang tertatur, niscaya anak tersebut masih bisa disembuhkan. 

Author :

K. Tatik Wardayati

I like food

I like eat

I like cooking

Komentar

Berita Terkait

Para Wanita, Perhatikan: Warna Darah Menstruasi

Perhatikan warna darah menstruasi Anda. Sebab, warna darah

Dimanakah Letak G-Spot pada Pria?

Informasi yang ada selama ini menyatakan, G-Spot hanya

Rencanakan Liburan Akhir Tahun? Ketahui Dulu 7 Kota

Anda rencakan liburan akhir tahun ini? Coba ketahui dulu

Matahari Pagi Baik Bagi Penderita Diabetes

Vitamin D pada sinar matahari pagi dapat membantu tubuh

Berita Lainnya

Para Wanita, Perhatikan: Warna Darah Menstruasi

Perhatikan warna darah menstruasi Anda. Sebab, warna darah

Di Penismu Terbaca Usia Harapan Hidupmu

Disfungsi ereksi (DE) dapat menjadi fatal jika tidak

Dimanakah Letak G-Spot pada Pria?

Informasi yang ada selama ini menyatakan, G-Spot hanya

Susahnya Membawa Wanita Berbobot 500 Kg dari Mesir ke

Eman Ahmed mendapat fasilitas gratis untuk operasi