Apa Rasanya Diculik Alien?

author : Agus Surono
Monday, 15 October 2012 - 04:02 pm

Share |
riverwashbooks.com

Bagaimana rasanya diculik makhluk asing?

Intisari-Online.com - Kalau UFO atau objek bergerak tak teridentifikasi saja masih belum jelas, apalagi pengalaman diculik makhluk asing. Misteri yang terbanyak menyedot perhatian orang setelah misteri kehidupan sesudah kematian ini masih meninggalkan banyak pertanyaan dan perdebatan. 

Bertempat di Massachussetts Institute of Technology (MIT), AS, beberapa ilmuwan dan mereka yang terlibat dalam kasus penculikan oleh alien duduk bersama mencoba mencari benang merah fenomena itu. C.D.B. Bryan memaparkan pertemuan itu dalam buku karyanya, Close Encounters of The Fourth Kind: Alien Abduction, UFOs, And The Conference at MIT.

Semua berawal dari surat bertanggal 28 Febaruari 1992. “Kolega yang terhormat. Kami menyelenggarakan konferensi ilmiah untuk mencari kesamaan sekaligus mendiskusikan perbedaan terhadap penemuan beberapa peneliti yang menyelidiki orang-orang yang pernah diculik makhluk asing, dan persoalan yang berkaitan dengan fenomena ini.

“Salah satu program konferensi ini,” surat itu masih berlanjut, “adalah panel tentang penculikan dengan peserta beragam. Jika Anda sedang menyelidiki seorang terculik yang pandai berbicara dan pintar serta memiliki minat khusus dan atau bermacam-macam pengalaman, silakan kirimkan nama, alamat, dan penjelasan singkat mengapa orang itu sesuai menjadi peserta.”

Surat itu juga menjelaskan, konferensi lima hari ini akan diselenggarakan di MIT pada 13 – 17 Juni. Ketuanya adalah fisikawan MIT, David E. Pritchard, dan psikiater dari Harvard, John E. Mack.

Berbekal surat itu, saya menghadiri konferensi yang menurut saya menarik. Pertama, karena membicarakan UFO (Unidentified Flying Object), yang masih misterius, bahkan cenderung menjadi kabar angin. Kedua, diselenggarakan justru di MIT, tempat tersohor dalam bidang teknologi.

Lebih banyak laki-laki

Sudah lama UFO menjadi bahan kajian ilmuwan. Agustus 1966, J. Allen Hynek, bekas guru besar astronomi di Ohio State University yang kemudian mengepalai Jurusan Astronomi di Northwestern University, pernah mencoba meluruskan salah kaprah laporan UFO di Majalah Science.

Yang pertama, bahwa hanya “penggemar” UFO yang melaporkan pengalaman melihat UFO. Ternyata, “Sebagian besar laporan berasal dari orang sekolahan.” Orang kebanyakan jarang membuat laporan karena mereka kesulitan untuk mengutarakannya.

Yang kedua, bahwa tulisan soal UFO tidak pernah berasal dari ilmuwan. “Berlawanan dengan hal itu,” tulis Hynek, “beberapa tulisan terbaik justru berasal dari orang-orang yang terlatih secara ilmiah. Sayangnya, beberapa laporan tadi jarang dipublikasikan di media ilmiah populer karena orang-orang ini biasanya menghindari publisitas dan memohon namanya dianonimkan.”

Yang ketiga, bahwa tak satu pun UFO yang tertangkap oleh radar atau terjejak oleh kamera pengamat meteor dan satelit. Bukan begitu, tulis Hynek. Peralatan-peralatan itu tentu saja menjejak “keanehan-keanehan” yang sulit untuk dikenali, dan karena hal itu Hynek “tidak dapat menghilangkan fenomena UFO begitu saja”. Misalnya saja pada 19 Juli 1952, radar di Washington National Airport menangkap tujuh UFO di tenggara Andrews Air Force Base.

Pada 1972, dalam bukunya The UFO Experience: A Scientific Inquiry, Hynek malah memperkenalkan istilah “pertemuan jarak dekat” (close encounters), yang kemudian ditenarkan oleh Steven Spielberg dalam filmnya berjudul Close Encounters of the Third Kind. Istilah itu untuk membedakan antara laporan penglihatan UFO dari suatu jarak tertentu dengan laporan yang melibatkan pengamatan pada jarak dekat.

Hynek juga membedakan tiga kategori pengamatan UFO: Ada UFO Malam Hari (Nocturnal UFO), Piring Terbang Siang Hari (Daylight Discs), dan Penglihatan Lewat Radar (Radar Visual), yang laporannya berdasarkan pengamatan pada radar digabungkan dengan pengamatan visual.

Kedekatan pertemuan oleh Hynek sebenarnya telah dibedakan antara pertemuan jarak dekat jenis pertama (tidak ada interaksi dengan lingkungan), pertemuan jarak dekat jenis kedua (ada pengaruh terhadap lingkungan, seperti: tumbuhan terbakar dan hangus, dahan dilaporkan patah, binatang ketakutan, mobil tiba-tiba mogok, radio tak berbunyi. Pada beberapa kasus semuanya kembali normal ketika UFO telah meninggalkan tempat itu), dan pertemuan jarak dekat jenis ketiga (kehadiran “penumpang” UFO dilaporkan).

Nah, The Abduction Study Conference yang akan diselenggarakan di MIT ini akan mempelajari pertemuan jarak dekat jenis keempat, sebuah kategori yang tidak diantisipasi oleh Hynek. Pada tahapan ini, seseorang atau beberapa individu didekati oleh “penumpang” pesawat ruang angkasa. Orang itu berkomunikasi dengan si “penumpang” untuk menjalani suatu pemeriksaan sebelum dikembalikan ke asalnya. Lama kontak biasanya berkisar 1 - 2 jam.

Siapa yang mengalami penculikan? “Bisa siapa saja,” kata Thomas E. Bullard, penulis artikel “On Stolen Time: A Summary of a Comparative Study of the UFO Abduction Mystery”. Si terculik bisa berasal dari lapisan tingkat pendidikan maupun strata pekerjaan apa pun. Hanya saja, statistik berbicara bahwa dua pertiga terculik berjenis kelamin laki-laki. Dari 309 kasus, 76%-nya dialami oleh orang yang sedang sendirian.

Temuan Bullard yang mengejutkan, risiko diculik ternyata lebih condong pada usia muda. “Jika Anda berumur lebih dari 30 tahun dan belum pernah diculik, jangan khawatir. Penculikan memang menyerang pada rentang usia dari bayi hingga umur 77 tahun, tapi menurun tajam pada usia di atas 30 tahun,” tulis Bullard.

Mengalihkan perhatian dengan suara mendengung

“Selamat datang di kesempatan luar biasa ini,” begitu sambuatan awal John E. Mack saat konferensi resmi di buka. Mack tidak berpendapat bahwa penjelasan makhluk asing itu salah, tapi kurang lengkap. “Benar atau salah, yang jelas keberadaan konferensi ini membuktikan indikasi yang kuat bahwa hipotesis mengenai ET (extra terrestrial) tidak akan diabaikan.”

Berikutnya, Mark Rodeghier, direktur bagian penyelidikan J. Allen Hynek Center for UFO Studies yang bermarkas di Chicago, mencoba mendefinisikan orang yang diculik. “Orang itu harus diambil paksa, berasal dari Bumi, dan oleh makhluk yang bukan manusia.” Selain itu, orang tadi harus menjadi subjek dalam pengujian fisik, terlibat dalam komunikasi (baik verbal maupun telepatis), atau kedua-duanya.

Dalam sesei selanjutnya, Tom Benson memaparkan proses penculikan berdasarkan seratusan kasus selama 40 tahun terakhir. Pertama, perhatian orang yang akan diculik dialihkan dengan cahaya terang yang menyorot atau berkedip-kedip, atau mendengar suara yang tidak lazim. Piring terbang yang mendengung, menurut Benson, adalah upaya memfokuskan pikiran orang itu pada UFO. “Apakah ini satu cara untuk masuk ke alam pikiran orang yang yang jadi sasaran sebelum menculiknya?” tanya Benson.

Kedua, objek biasanya diperhatikan dalam jarak yang dekat. Kemudian si calon terculik memiliki dorongan yang kuat – atau bisa jadi perintah komunikasi – untuk bergerak ke tempat yang dekat. Keempat, objek kemudian terlihat mulai mendarat. Tak ada sesuatu yang bisa diamati. Banyak terculik yang menggambarkan piring terbang itu berwarna “merah-jingga” dan bilang ada efek pancaran cahaya baik di luar maupun di dalam. Meski ukuran cahaya yang mengitari benda itu bervariasi, para terculik umumnya sependapat bahwa benda itu berputar melawan arah jarum jam.

Kelima, sesuatu benda muncul. Pesawat mungkin mendarat atau melayang. Keenam, si calon terculik pun dimasukkan ke pesawat.

Benson mengakhiri presentasinya dengan menyatakan, penelitian selanjutnya diperlukan untuk menguji hipotesis bahwa pertemuan jarak dekat khas UFO sangat erat kaitannya dengan penculikan – suatu kesimpulan yang dicurigai banyak peneliti.

Mengambil sel telur, membuang sperma

David E. Jacobs, penulis Secret Life, melanjutkan kisah yang sudah dimulai oleh Benson. Dalam lima tahun penyelidikan soal penculikan, Jacobs menjelaskan, ia telah melakukan lebih dari 325 sesi hipnosis pada lebih 60 terculik. Meski tidak saling kenal, para terculik memiliki cerita yang amat mirip. Begini ceritanya, “Mereka diculik oleh makhluk kecil dengan tinggi 1,1 – 1,4 m, kurus, berwajah aneh, berkulit abu-abu dengan perbandingan kepala-tubuh yang tidak seimbang. Makhluk itu mengambangkan atau menyuruh terculik untuk menuju meja pemeriksaan dan membaringkannya dalam keadaan telentang.

Makhluk tadi kemudian mengerjai korbannya dengan serangkaian prosedur pemeriksaan sebelum mengembalikannya ke tempat semula. Para terculik tidak berdaya melawan keinginan makhluk itu. Lalu sewaktu kembali, mereka lupa – hampir semuanya – tentang apa yang baru saja dialami.

Sambil mendengarkan cerita mereka, Jacobs memperhatikan “struktur” skenario penculikan. Ada pola kesamaan bahwa prosedur yang satu akan diikuti dengan prosedur lainnya. Berdasarkan pengamatannya itu, ia menemukan “matrik skenario penculikan secara umum” yang terdiri atas tiga deretan bertingkat. Pertama, prosedur yang dilakukan terhadap sejumlah orang dengan waktu yang lama. Kedua, prosedur yang jarang dilakukan, tidak selalu pada setiap periode. Ketiga, prosedur khusus soal seksualitas.

Tingkat pertama diawali ketika terculik dibawa masuk ke pesawat dan dibaringkan di atas meja yang sepertinya khusus dipakai untuk menguji makhluk hidup. Meja itu berbentuk persegi panjang, unipodal, dan cukup panjang untuk merebahkan manusia dewasa. Sepertiga bagian bawah sepertinya ada alat pemindai. Mungkin alat untuk mengambil sperma.

Di atas meja itu, tubuh terculik “diperiksa, ditusuk, diraba, diregangkan” oleh si makhluk mungil. Salah satu yang menjadi perhatian dalam pemeriksaan ini ialah bagian tulang belakang, yang diraba dari ujung atas sampai bawah. Seorang terculik wanita berkisah, ia merasa ada sesuatu yang “memainkan piano” di tubuhnya. Yang lain merasa ia “mengetik” di atas tubuhnya.

Contoh jaringan biasanya diambil pada pemeriksaan fisik ini. Menurut Jacobs, biasanya daerah yang diambil adalah di belakang lutut. Prosedur ini diikuti dengan penyelipan atau pemindahan sebuah implant. Para terculik melaporkan, mereka memiliki peralatan pipih dengan semacam bola metal yang kecil sekali pada ujung atas hidungnya. Biasanya, setelah mendengar suara berderak, lalu peralatan ditarik dan bola pun hilang.

Dalam artikelnya di Secret Life Jacobs menulis, “Fungsi alat itu belum diketahui. Mungkin menjadi penunjuk lokasi sehingga individu target tadi bisa ditemukan dan diculik, bisa juga berfungsi sebagai monitor perubahan hormonal, "... Kadang-kadang mimisan terjadi setelah dilakukannya prosedur ini. Baik terculik anak-anak atau orang dewasa mendatangi dokter karena persoalan mimisan, dan ditemukan lubang aneh di dalam hidung mereka.”

Alternatif lokasi pencangkokan, ungkap Jacobs pada seminar itu, adalah kaki, tangan, dan alat kelamin. Akan tetapi tempat yang paling umum adalah sinus, saluran air mata, dan telinga.

Setelah pemeriksaan fisik, makhluk yang lebih tinggi memulai fase mental. “Pemindaian otak merupakan fokus perhatiannya,” kata Jacobs. Selama pemindaian otak, si terculik masih berada di atas meja. Makhluk tinggi itu lalu membungkuk. Begitu dekat sehingga dahinya hampir menyentuh kepala terculik. Makhluk itu kemudian menatap dalam-dalam mata si teculik. “Terculik mengalami perasaan cinta, percaya, tenang, cemas, takut,” ujar Jacobs. Terculik merasakan beberapa informasi dalam otaknya disadap. Informasi macam apa dan dengan cara bagaimana Jacobs tidak tahu.

Selama tingkat berikut, makhluk tinggi melakukan perangsangan seksual. “Meski ini sulit didiskusikan, tetapi perangsangan seksual sangat penting untuk dimengerti,” kata Jacobs. Ia menjelaskan, dari “waktu ke waktu makhluk luar angkasa akan merayu dengan cepat, membangunkan naluri seksual secara intensif, dan mungkin orgasme dengan wanita terculik sebagai bagian dari prosedur pemindaian otak. Biasanya terculik mengeluhkan soal ini, karena mereka merasa dihina, diperkosa, marah lantaran hal itu dilakukan tanpa kehendak mereka.

Ketika pemindaian otak selesai, atau perangsangan seksual mencapai puncaknya, makhluk angkasa yang tinggi itu memulai serangkaian prosedur ginekologis yang dirancang untuk mengumpulkan dan menanamkan telur-telur, atau prosedur urologis untuk membuang sperma. Wanita merasa sesuatu ditaruh di dalam tubuhnya. Mereka lalu bilang, “Sekarang kamu hamil”. Ketika wanita itu bangun keesokan harinya, ia merasa hamil. Ketika diperiksa, ia positif. Tapi tidak ada perasaan apa pun. Biasanya, ia akan diculik lagi lalu mereka akan bilang, “Kami ambil kembali” atau “Sudah tiba saatnya”. Si wanita merasa ada sesuatu yang diambil dari tubuhnya, dan tidak merasa hamil lagi.

HIV bisa sembuh

Yvonne Smith, hipnoterapis yang atraktif dari La Crescenta, Kalifornia, memaparkan dua kasus, terculik pria dan wanita. Yang wanita, seorang ibu rumah tangga, menceritakan tentang sensasi dibor di belakang kepalanya dan merasakan tengkoraknya dibuka. Ia mencium bau hangus, kemudian kepalanya ditutup kembali. Selama pemeriksaan ia merasa tidak nyaman, ada beberapa tekanan dia rasakan di mata bagian kiri. Ia juga tidak bisa melihat sekeliling karena separuh wajahnya ditutup.

Terculik lelaki, menurut Smith, adalah anggota Los Angeles Police Department. Ia sangat terguncang ketika menjelaskan sobekan yang dibuat di belakang kepalanya.

Ketika ada yang bertanya apakah setelah makhluk asing itu melakukan pemeriksaan fisik, ada indikasi penyembuhan? Smith menjawab, “Saya bahkan memiliki klien yang positif HIV. Setelah diculik, hasil tesnya negatif.”

Negatif? Apakah ini berarti makhluk asing itu memiliki obat HIV? Sayang sekali, tidak ada jawaban selanjutnya.

Kembali Jacobs naik mimbar dan menjelaskan kembali soal matriksnya. Kali ini ia bercerita mengenai prosedur kedua, yakni pengujian mental. Di sini terculik menjalani serangkaian tes yang tujuannya mengukur reaksi psikologis untuk mengatur kembali adegan dan situasi.

Setelah prosedur kedua ini, terculik disuruh berjalan menuju ruangan khusus tempat banyak janin dalam proses inkubasi. Janin itu mengapung tegak lurus di dalam cairan yang ditempatkan dalam wadah dari beling. Bisa juga janin terletak horisontal pada lingkungan cair atau kering.

“Salah seorang terculik sempat melihat sekitar 100 janin di ruangan itu. Yang lain melihat bayi, anak kecil, anak remaja. Semua tampak seperti peranakan, keturunan campuran. Tidak terlihat adanya makhluk asing dewasa. Kalaupun ada yang dewasa atau remaja, mereka membantu para makhluk asing campuran itu bekerja. Mereka terlihat seperti manusia, tetapi tidak punya alis,” terang Jacobs.

Ternyata banyak yang meragukan skenario Jacobs. Seorang terapis menyatakan, 36 kliennya tidak memiliki pengalaman seperti diungkapkan Jacobs. Begitu pula dengan Marilyn Teare, terapis berambut perak dan berwajah kekanak-kanakan asal Kalifornia. “Saya melihat perbedaan yang besar di antara pasien-pasien saya. Kita harus hati-hati dalam memahami hal-hal yang tidak mereka lihat.”

Seseorang menambahkan, ”Apa tujuan itu semua? Kita tidak tahu, apa tujuan utamanya. Semua terculik mengatakan ‘Mengapa mereka melakukan ini?’ Jawabannya adalah kita tidak memiliki pengetahuan yang mendalam soal ini.”

Penyembuhan ajaib juga diceritakan oleh John S. Carpenter. Kliennya, katakanlah bernama Eddy, sembuh dari penyakit buta warnanya setelah diculik makhluk asing. “Selama pemeriksaan, mata kanan Eddy diambil. Ia merasakan, matanya dicungkil dan diletakkan kembali. Setelah itu ada rasa sakit dan pandangan kemerah-merahan. Ia tidak merasa makhluk asing itu memasukkan sesuatu ke belakang matanya. Mereka hanya ‘memperbaikinya’.’

Itulah penyembuhan ajaib kedua setelah orang yang positif HIV menjadi negatif setelah diculik makhluk asing.

Hanya robot?

Yang jarang terjadi adalah cerita tentang perjalanan. “Kadangkala saksi melaporkan dibawa ke suatu tempat,” kata Bullard. “Dunia lain ini selain agak gelap juga temaram oleh sinar mentari merah. Atau tempat itu tersembunyi, berada di bawah tanah, serta memiliki lingkungan yang bisa mengatur dengan sendirinya. Perjalanannya sendiri hanya memakan waktu singkat: berangkat setelah sarapan, pulang sebelum makan siang.”

Ada kesamaan pula dalam soal penggambaran fisik si makhluk asing. Makhluk yang sering dijumpai, sebut saja Manusia Cebol Abu-abu, bertinggi 1 - 1,4 m dengan kepala yang sangat besar, tengkorak monyong ke bawah atau hampir tak punya dagu. Tekstur kulit mereka umumnya halus, meski ada beberapa yang bergalur-galur. Mereka tidak berambut, baik di kepala maupun di seluruh tubuh, berkulit kasar, tidak bertelinga (mereka berkomunikasi lewat telepati), berhidung amat pesek dengan dua buah lubang, serta tak berbibir.

Tubuh si cebol itu rata, tanpa perut. Dadanya tidak terbagi dalam dua cabang seperti kita yang bertulang rusuk, dan mereka tidak berputing susu. Tidak terlihat pula dadanya turun naik tanda bernapas. “Bahkan waktu pemindaian otak yang mempertemukan hidung terculik dengan hidung si cebol, tak terasa sedikit pun ada hembusan angin keluar dari lubang hidungnya. Mereka seperti makhluk yang tidak bernapas,” kata Jacobs.

Anatomi bagian bawah mereka tidak terdiri atas kantung perut atau genital. Lurus begitu saja. “Kami tidak tahu bagaimana mereka bereproduksi,” komentar Jacobs. Mereka tidak memiliki pinggul. Tidak ada triangulasi terhadap tubuh seperti pada manusia. Pokoknya lurus mblejersampai ke bawah.

Tak ada istilah lutut atau siku karena diameter kaki dari atas ke bawah sama. Pergelangan, baik kaki maupun tangan, juga tidak tampak. Cebol Abu-abu ini memiliki tiga atau empat jari-jari. “Biasanya, terculik melihat ada tiga jari.”

Pada punggung makhluk asing ini tidak ada pantat ataupun percabangan. Hanyal tonjolan yang menandai bahwa itulah akhir dari tubuh. Maka dapat dimengerti kalau antara yang lelaki dan perempuan sangat sulit dibedakan. Akan tetapi terculik masih bisa merasakan bedanya, karena yang perempuan biasanya ramah dan lemah lembut.

Dengan gambaran itu, wajar jika ada peserta yang menyatakan, “Semua yang Anda jelaskan itu sepertinya lebih mengacu kepada mesin daripada ilmu hayat.”

Pengujian yang tidak umum

Pembicara hari kedua diawali oleh John G. Miller, dokter yang bersertifikat dokter gawat darurat dan berpraktik di daerah Los Angeles. Sebagai dokter ia lebih tertarik bagaimana makhluk-makhluk cerdas itu mengeksplorasi anatomi tubuh manusia. Ia mengamati, pengujian fisik makhluk asing tadi cenderung mengabaikan kardiovaskuler, pernapasan, limfomatik, dan sistem internal tubuh. Juga sepertinya tak ambil pusing dengan bagian-bagian atas perut kita, seperti liver, limpa, serta pankreas. Padahal bagian-bagian itu sangat menarik perhatian para dokter. Dalam kata lain, makhluk alientidak tertarik dengan komponen dari tubuh kita yang berperan dalam kelangsungan hidup.

Ia memaparkan tentang bagaimana para terculik mengalami ditusuk jarum lewat pusar. Ini mungkin mirip dengan model laparoskopi yang digunakan umat manusia. “Perbedaannya hanya pada diameter alat yang sangat kecil sehingga seperti tidak perlu menoreh tubuh saja.”

Miller juga tidak pernah mendengar para makhluk asing menggunakan sarung tangan, alat penekan lidah, maupun elektro kardiogram (EKG). “Dari mana pun Anda memandang laporan-laporan terculik itu, ada perbedaan yang sangat mendasar dibandingkan dengan dunia kedokteran manusia. Hal yang perlu ditarik kesimpulan dari cerita ini adalah bahwa cerita-cerita itu tidak muncul dari pengalaman atau pengetahuan medis terculik.”

Sindrom janin hilang

Pada hari ketiga Miller melontarkan isu “Kurangnya bukti bagi fenomena embrio hilang atau disebut juga sindrom fetus". Meskipun fenomena ini secara luas dilaporkan baik oleh Budd Hopkins dan David Jacobs dalam bukunya Secret Life, Miller tidak yakin hal itu ada. Dalam bukunya itu Jacobs menulis bahwa setelah proses penculikan, paling sering terjadi adalah wanita terculik mengalami kehamilan yang tidak terencana dan sulit dipahami. Biasanya, ia merasa hamil dan menunjukkan tanda-tanda fisik kehamilan. Anehnya, si wanita tidak merasa telah melakukan hubungan seksual, bahkan kadang sedang ber-KB.

Semakin aneh, saat antara tahunya adanya kehamilan dan akhir triwulan pertama, wanita terculik itu tiba-tiba menemukan dirinya tidak hamil lagi. Padahal ia tidak merasa keguguran, tidak mengalami pendarahan hebat, atau melakukan aborsi. Janinnya begitu saja hilang. “Sindrom Hilang Janin” terjadi cukup sering sehingga dipertimbangkan sebagai satu dari pengaruh umum pengalaman terculik.

“Cerita mengenai sindrom kehilangan embrio ataupun janin sekarang ini mulai sering dilaporkan oleh terculik wanita. Mestinya, kita memiliki dokumentasi medis yang baik soal kasus ini. Sayangnya, tidak ada. Sama sekali sulit membuktikan kasus sindrom ini,” kata Miller. Persoalannya ya itu tadi, kekurangan data medis.

Lalu bagaimana membuktikan hal itu benar terjadi? “Diperlukan wawancara dengan saksi untuk mengetahui kredibilitasnya, bisa mengakses dan me-reviewcatatan medis lengkap pasien serta catatan lain yang dikeluarkan oleh dokter yang berkompeten, dan dengan persetujuan saksi, mewawancarai dokter yang terlibat.”

Jika dengan cara itu masih belum bisa menjelaskan fenomena tadi, ia menyerahkan kasusnya ke suatu dewan yang terdiri atas para bidan dan ginekolog yang belum pernah menyentuh kasus yang ada hubungannya dengan UFO. Ini untuk menghindari bias.

Banyak yang “gila”

Sesi lain yang menarik adalah sesi tentang profil psikologi secara umum para terculik. Menurut saya, ini menarik karena jika ada semacam penjelasan psikologis bagi fenomena penculikan ini, indikasi awal dari fenomena itu akan terungkap.

Mark Rodeghier, direktur bagian investigasi Center for UFO Studies (CUFOS), mengawali sesi ini. Ia menyatakan, data psikologis dan demografis dikumpulkan dari 32 individu yang sesuai dengan kriteria CUFOS soal terculik. Dari data itu wanita unggul dengan perbandingan 3 : 1, 94% orang kulit putih, umur rata-rata 38 tahun, dan rata-rata berpendidikan perguruan tinggi tingkat dua.

Pada pengujian soal fantasi - memperoleh kecelakaan individu menggunakan Index Childhood Memory and Imagination (ICMI), diperoleh angka 24 pada skala 0 – 52. Angka normal berkisar antara 20 dan 23. Untuk angka pengaruh hipnosis mereka berada pada level 25,2. Normalnya 20,8. Sekitar 20% dari sampel mengalami gambaran hidup dan atau suara ketika tertidur atau bangun. Kesimpulan Rodeghier, sampel tidak begitu mencolok berbeda dengan orang umum.

Saat diuji soal aspek karakter patologis untuk mengetahui bakat gila menggunakan Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) diperoleh dua label: Cluster I dan II. Cluster II ini tergolong gila. Selain itu, individu pada clusterini dilaporkan sebagai pendiam sebagai orang dewasa, kurang bahagia selama hidupnya, bermasalah dengan tidurnya, dan lebih banyak menerima pelecehan seksual semasa kanak-kanak.

Pemakalah lain, Joanne Bruno dan Eric Jacobson, psikolog dari Boston yang dimintai tolong oleh Mutual UFO Network, mencoba mencari beberapa faktor dalam kehidupan atau latar belakang terculik yang bisa dihubungkan dengan pengalaman mereka diculik. Ini suatu pekerjaan yang sederhana, membandingkan cerita terculik dengan gabungan sejarah hidup dan laporan medis mereka. Mereka lalu membagi dua: cerita klasik terculik dan cerita plus, yang mereka istilahkan “florid”. Pada kategori dua ini, selain mengalami penculikan mereka juga dilaporkan memiliki pengalaman supranatural seperti komunikasi telepati dengan makhluk asing atau hantu.

Bagi Bruno dan Jacobson, jenis florid ini sangatlah mudah dihipnosis, mudah kesurupan, dan terlepas dari kekacauan (dissociative disorder). Beberapa memiliki cerita yang aneh, seorang wanita yang ingat masa kecilnya sebagai sebuah stone rabbit abu-abu besar berada di samping tempat tidur kecil, akan tetapi tidak ingat hal-hal misteri lainnya. Florid yang lain bercerita secara detail tentang hidupnya sejak “kepala keluarga alienmengadopsinya sebagai anak.” Ia didiagnosis menderita skizofrenia.

Pada dasarnya, beberapa orang yang mengalami penculikan menderita gangguan psikiatris yang bisa diidentifikasi. Kelompok inilah yang oleh Rodeghier masuk kategori Cluster II, “orang gila”. Diakui Jacobson dan Bruno, sulit untuk membedakan apakah pengalaman mereka benar-benar atau khayalan semata? Akan tetapi, meski 80% cerita terculik masuk golongan Cluster II, masih ada 20% cerita yang harus ditangani dengan serius secara ilmiah. Setidaknya ada harapan, meski sedikit.

Dibaca 2311 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014