Curug Malela, Niagara Mini di Cimahi

author : Agus Surono
Tuesday, 11 October 2011 - 04:40 pm

Share |
Yds

Air yang terjun di atas batu 'malela'

Intisar-Online.com - Cobalah googling dengan kata kunci "Curug Malela Bandung". Akan ada 30 ribuan laman terkait kata kunci itu. Persempit dengan laman gambar saja. Tertarik? Terpukau? Tak salah memang kalau disebut Niaga Mini. Terlebih jika debit airnya berlebih, dari atas benar-benar seperti replika Niagara. Sayang, debit berlebih hanya terjadi kala banjir dengan airnya yang cokelat.

Sudah lama saya ingin ke sini, baik sambil gowes atau naik kendaraan sendiri. KGC, komunitas pesepeda dari Kompas Gramedia, pun sudah merencanakan gowes ke sini beberapa bulan silam. Baru kemarin (8-9-2011) keinginan itu terlaksana. Kebetulan salah seorang anggota komunitas ada yang memiliki rumah di sekitar curug, tepatnya di Kampung Bungur, Gunung Halu. Jaraknya sekitar 20 km dari curug. Melewati perkampungan, kebun teh, dan persawahan. Kondisi jalan mulai dari aspal halus, aspal berlubang-lubang, sampa jalan berbatu.

Curug atau air terjun ini memang tersembunyi lokasinya. Baru ditemukan sekitar 6 tahun silam, penduduk sekitar kawasan pun banyak yang belum menjamahnya. Akses jalan menuju ke sini belum tergarap dengan rapi. Padahal plang nama sudah dijajakan sejak keluar dari Tol Padalarang menuju jalur alternatif ke Ciwidey via Soreang. Objek wisata Curug Malela terpampang bersama nama daerah lainnya.

Lokasi curug bisa disambangi dari Bandung ke arah barat menuju Kota Kecamatan Gununghalu. Jaraknya sekitar 40 km. Jika tidak membawa kendaraan pribadi bisa naik kendaraan umum dari Stasiun Ciroyom. Hampir setiap jam ada yang berangkat, cuma hanya sampai sore hari. Tengah malam baru mulai ada lagi karena ingin mengangkut para calon penumpang yang biasa akan menjual hasil bumi dan palawija ke Bandung pada subuh harinya.

Dari Gununghalu kemudian kita mengarah ke Bunijaya. Ada kendaraan umum yang melayani jalur ini (beberapa minibus jurusan Bandung - Gununghalu - Bunijaya). Beberapa petunjuk sudah dipasang sehingga yang baru pertama kali akan terbantu. Namun jika ragu lebih baik bertanya.

Menuju curug yang terletak di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, ini lebih baik menggunakan kendaraan pribadi. Sebab tidak ada kendaraan umum yang sampai curug. Angkutan umum hanya sampai Rongga dan dari sini harus naik ojek dengan ongkos sekitar Rp 50.000,- melalui jalanan berbatu yang licin kala hujan. Nah, karena jalan berbatu tadi, jika menggunakan kendaraan pribadi disarankan kendaraan dengan ground clearance tinggi seperti SUV.

Masih harus jalan kaki untuk menikmati keindahan curug sebab sekitar 1 km sebelum curug jalan yang ada hanyalah jalan setapak. Silakan apakah mau melanjutkan untuk jalan kaki atau naik ojek. Ojek sendiri hanya bisa memangkas perjalanan separuhnya sebab perjalanan selanjutnya menuruni tangga berundak dan melintas persawahan yang beberapa turunannya cukup terjal. Dari turuan sebelum undakan tadi keindahan curug sudah terlihat. Tak salah bila disebut Niagara Mini.

Berdasarkan peta topografi, Curug Malela memiliki ketinggian kurang lebih 50 m dan lebar mencapai 70 m. Airnya berasal dari Sungai Ci Curug. Air ini terjun di atas batu breksi dan konglomerat yang sangat keras, berumur Miosen Atas, kira-kira 10 hingga 5 juta tahun. Kesan yang timbul dari kerasnya batuan dapat dilihat dari morfologi batuannya yang memperlihatkan dinding-dinding tegak yang licin. Begitulah rupanya mengapa Niagara kecil ini dinamakan ‘malela’ yang mengambil dari Bahasa Kawi yang berarti ‘baja’ (ayotamasya.com).

Toponimi Curug Malela (baja) juga bersesuaian dengan nama sungainya, Ci Curug, yang berarti ’sungai air terjun’. Hulu Ci Curug berasal dari lereng utara Gunung Kendeng dengan bekas kaldera raksasanya yang berdiameter hampir 15 km. Dari gunung api yang telah mati, yang terletak di sebelah barat Ciwidey, ini mengalir jaringan sungai Cidadap. Cidadap mengalir ke arah barat laut melalui Kecamatan Gununghalu menggerus rangkaian batuan keras yang umumnya berciri produk letusan gunung api tua.

Aliran Cidadap setelah melewati utara Bunijaya, kemudian mengalir sebagai Ci Curug dan memasuki relief sangat terjal di suatu dataran tinggi yang dulu dinamakan Plateau Rongga. Ciri biasa bagi sungai-sungai yang mengalir di atas plateau, pola alirannya terganggu oleh air terjun yang bertingkat-tingkat. Itulah yang terjadi pada aliran Ci Curug. Selain Curug Malela yang terbesar, ke arah hilir terdapat beberapa tingkat air terjun yang dinamakan Curug Katumiri dan Curug Ngebul, sebelum sungai ini bermuara ke Ci Sokan.

Sayangnya, keindahan curug ini ternodai oleh pencemaran. Persoalannya, jaringan hulu Ci Curug yang berasal dari Ci Dadap melewati kota-kota kecamatan yang cukup padat, seperti Gununghalu dan Bunijaya. Sepanjang alirannya di wilayah permukiman Kecamatan Gununghalu, lembah sungai Ci Dadap menjadi tempat pembuangan sampah, terutama dari rumah-rumah yang tumbuh di tepi sungai. Sampah-sampah itu terbawa aliran Ci Dadap untuk kemudian ikut jatuh di Curug Malela. Jangan heran jika di lereng-lereng bawah dekat air terjun itu kita akan mendapati tumpukan sampah-sampah plastik, sandal jepit, atau styrofoam. Saat menceburkan diri di kubangan tempat limpasan air terjun, saya melihat buih-buih kecokelatan di pinggirannya.

Agar keindahan curug terjaga, Pemda Bandung tak hanya membenahi infrastruktur menuju curug tapi juga daerah aliran sungai dari limbah. Apalah artinya akses jalan mudah namun curugnya penuh limbah. 

Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014