Di Balik Kematian Marilyn Monroe

author : Agus Surono
Thursday, 05 April 2012 - 02:37 pm

Share |
photobucket.com

Sampul muka buku Coroner to the Stars

Intisari-Online.com- Dr. Thomas T. Noguchi, seorang ahli kedokteran forensik dari Los Angeles, adalah pengagum Marilyn Monroe. Tanpa diduga-duga, ia mendapat tugas untuk "berkenalan" dengan sang bintang. Sayangnya, perkenalan pribadinya itu terjadi setelah mereka menjadi mayat. Berikut pengalamannya yang dibukukan dalam Coroner to the Stars yang ditulisnya bersama Joseph DiMona.

Tanggal 5 Agustus 1962, pukul 09.30 saya berjalan di lorong yang menuju ke ruang autopsi. Begitu pintu ruang dibuka, segera tercium bau formalin, pertanda hadirnya kematian. Di hadapan saya, diterangi cahaya lampu neon, terdapat ruang tanpa jendela. Meja-meja autopsi yang terbuat dari baja tahan karat berjejer dengan rapi. Setiap meja dilengkapi dengan selang air dan sistem pengaliran air. Selain itu masing-masing mempunyai tempat cuci tangan dan timbangan.

Ada pula tape recorder, karena dokter ahli patologi biasanya mendiktekan hasil pengamatan mereka pada alat itu sambil melakukan pekerjaannya atau sesaat setelah mulai.

Saya segera merasa, mayat yang harus saya autopsi ini merupakan kasus istimewa, karena saat itu hadir John Miner, wakil kepala kejaksaan setempat.

Jenazah di meja 1 ditutup dengan kain putih. Perlahan-lahan saya singkapkan kain itu. Tiba-tiba saja tangan saya berhenti. Wajah di balik kain itu tidak lain daripada Marilyn Monroe!

Untuk pertama kalinya dalam kehidupan profesional saya, saya merasa tergugah memandang jenazah di meja autopsi. La begitu cantik dan masih muda. la punya bakat dan semangat untuk maju, sehingga dari buruh pabrik ia menanjak menjadi wanita yang bisa berdampingan dengan para presiden. Kini semuanya itu sudah berlalu. Sayang!

MM dilihat dari kaca pembesar

Saya sadar bahwa saya memikul tanggung jawab berat. Semua orang di segala penjuru dunia ingin tahu, apa yang terjadi pada bintang film Marilyn Monroe, yang merupakan simbol seks itu. Karena itulah dengan saksama saya pergunakan kaca pembesar untuk mencari kalau-kalau ada bekas tanda suntikan di kulitnya. Tidak ada. Begitu pula tanda-tanda kekerasan. Cuma di punggung kiri agak ke bawah ada tanda memar sedikit. Warnanya memperlihatkan bahwa memar ringan itu belum lama terjadi.

Apakah itu ada hubungannya dengan kematiannya ataukah cuma bekas benturan tidak sengaja dengan meja umpamanya? Pada saat autopsi, saya yakin hal itu tidak ada hubungannya dengan kematiannya.

Dari pemeriksaan organ-organ bagian dalam tubuh, saya tidak melihat adanya pil di lambung maupun usus kecil. Tidak pula ada sisanya atau kristal. Tetapi botol-botol pil menunjukkan Marilyn telah menelan 40 - 50 butir Nembutal dan sejumlah besar pil kloralhidrat.

Darah yang belum dibalsem diambil untuk diperiksa, kalau-kalau mengandung alkohol dan obat penenang. Hati, ginjal, lambung dan isinya, urine, dan usus disimpan untuk pemeriksaan toksikologi.

Itulah yang terjadi tanggal 5 Agustus 1962. Namun sebelum dilakukan tes toksikologi di laboratorium, sudah tersebar kabar-kabar angin bahwa Marilyn dibunuh. Kata teman-temannya, karier bintang film yang sudah menurun itu kini menanjak kembali, jadi tidak ada alasan untuk bunuh diri.

Beberapa jam setelah saya menyelesaikan autopsi, tibalah hasil tes dari laboratorium. Ternyata yang mereka periksa hanya darah dan hati, sedangkan organ-organ lain tidak.

Pemimpin toksikolog, Raymond J. Abernathy, rupanya merasa tidak perlu mengadakan pemeriksaan lebih lanjut, karena tes darah menunjukkan kehadiran 8,0 mg% kloralhidrat dan tes hati menunjukkan 13,0 mg% pentobarbital (Nembutal). Berarti keduanya jauh di atas dosis yang bisa menyebabkan kematian. Apalagi ditemukan botol Nembutal kosong (yang baru dibeli sehari sebelumnya, berisi 50 butir) bersama botol kloralhidrat yang isinya tinggal 10 (mestinya 50). Ini semua dianggap jelas menunjukkan bahwa Marilyn Monroe bunuh diri.

Sebetulnya saya harus mendesak agar semua organ dianalisis. Namun sebagai anggota muda dari staf di tempat ini, saya merasa tidak mampu menentang orang-orang yang lebih atas.

Ketika penemuan itu diumumkan, koran-koran lekas mempertanyakan mengapa organ-organ lain tidak diperiksa. Celakanya, organ-organ itu sudah disingkirkan.

Tidak heran kalau pelbagai teori mengenai kematian Marilyn Monroe lantas bermunculan.

Sering menelepon Robert Kennedy

Norma Jean Baker lahir di Rumah Sakit Umum Los Angeles 36 tahun sebelumnya. Ibunya penderita penyakit jiwa dan ayahnya meninggalkan mereka sebelum Marilyn lahir. Sang ayah tewas dalam kecelakaan lalu lintas tiga tahun kemudian.

Tahun 1942, Norma Jean yang bekerja sebagai buruh di pabrik pesawat terbang menikah dengan James Dougherty, tetapi bercerai empat tahun kemudian. la mencoba mengadu nasib di Hollywood. la menikah lagi dengan atlet paling top di AS waktu itu, Joe DiMaggio, tahun 1954. Pernikahan dengan bintang bisbol itu cuma bertahan sembilan bulan. Tahun 1956 sebagai pemain film yang seksi dan berani, ia menikah lagi dengan penulis sandiwara terkemuka, Arthur Miller. Mereka bercerai tahun 1960. Bersamaan dengan itu karier Marilyn yang tadinya menanjak terus di Hollywood juga merosot.

Pada saat itu ada desas-desus Presiden AS John Kennedy menaruh perhatian kepadanya. Bahkan adik presiden, Jaksa Agung Robert Kennedy, sempat mengunjunginya di rumahnya di Hollywood.

Mungkin itu satu-satunya pembangkit semangat hidup Marilyn. Selain itu semuanya gawat. Kesulitan keuangan memaksa ia melepaskan tempat tinggalnya yang mahal di Beverly Hills Hotel dan menyewa rumah sederhana di Brentwood. Ia minum banyak obat penenang, sehingga psikiaternya kaget dan memintanya menjalani program pengurangan ketergantungan pada obat itu.

Sementara itu perhatian kedua Kennedy rupanya hanya sampai di situ. Marilyn sering menelepon Robert Kennedy, sampai akhirnya adik presiden tidak mau menerima panggilan telepon dari Marilyn lagi.

Marilyn begitu tertekan, sehingga psikiaternya, Dr. Ralph Greenson, mendesak agar Marilyn ditemani perawat merangkap pengurus rumah tangga yang bisa mengawasinya.

Demikianlah terjadi. Ia mulai bersemangat lagi dan mempertimbangkan kemungkinan untuk muncul dalam pertunjukan di Las Vegas yang menawarkan kepadanya dengan bayaran AS$ 55.000 seminggu.

Tanggal 4 Agustus 1962 ia sarapan bersama perawat merangkap pengurus rumah tangganya. Ia tampak gembira dan mengobrol sambil minum air jeruk. Namun ada satu pertanyaan yang agak aneh dilontarkannya:

"Di rumah ini ada tabung oksigen atau tidak, sih?"

"Ini 'kan bukan rumah sakit, mana ada tabung oksigen," jawab Ny. Murray. "Kenapa?"

"Ah, saya cuma ingin tahu saja."

Ny. Murray lalu menelepon Dr. Greenson untuk melaporkan pertanyaan itu. Dr. Greenson menyatakan sebentar siang ia akan singgah dan menanyakan hal itu kepada Marilyn.

Pukul 12.00, Ny. Murray mendengar Marilyn cekcok dengan Pat Newcomb, teman Marilyn dan press agent-nya, yang menginap hari itu. Marilyn entah ke mana, sehingga semalam Marilyn tidak bisa tidur. Kini mengertilah Ny. Murray mengapa pagi-pagi Marilyn sudah bangun. Biasanya ia tidur sampai lewat tengah hari. Kedengaran pintu dibanting dan Newcomb pergi.

Dr. Greenson datang lewat tengah hari dan mengobrol dua jam dengan pasiennya yang terkenal itu. Menurut laporannya kemudian, Marilyn bingung dan kehilangan orientasi. Namun sampai Greenson meninggal beberapa tahun kemudian, ia tidak pernah mengungkapkan mengapa Marilyn bertanya mengenai oksigen.

Telanjang di ranjang

Marilyn seperti biasa memakai pakaian tidur sepanjang hari. Sebagian besar waktunya dilewatkan di ranjang, mengobrol lewat telepon. Ny. Murray sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda depresi. Pukul 19.30 Marilyn mengobrol dan tertawa-tawa lewat telepon dengan putra mantan suaminya, Joe DiMagio Jr. (bukan anak Marilyn). Anehnya, tidak sampai 30 menit kemudian ia sudah hampir tewas.

Hal itu bisa diketahui karena kira-kira pukul 20.00 ipar Kennedy, Peter Lawford yang pemain film itu, menelepon.

Lawford dan teman-temannya malam itu akan main poker (istrinya sedang berada di rumah keluarga Kennedy di Cape Cod) dan Marilyn berjanji akan ikut. Kata Lawford, suara Marilyn tidak wajar.

"Sampaikan selamat tinggal pada Pat (istri Lawford), selamat tinggal kepada presiden dan kepada kau sendiri, karena kau orang baik." Lalu tiba-tiba telepon ditaruh.

Lawford kaget. Ia menduga Marilyn akan bunuh diri. Cepat-cepat ia menelepon agennya sendiri. Agennya memberi nasihat agar ia jangan ikut campur, karena ia ipar presiden. Nanti urusannya bisa panjang.

Agen itu menghubungi agen Marilyn, yang segera menelepon ke rumah Marilyn. Ketika itu sudah pukul 21.30. Yang menerima telepon dari Milton Rudin ini ialah Ny. Murray.

"Bagaimana Marilyn, ia baik-baik saja?"

Karena Ny. Murray melihat lampu di kamar Marilyn masih terang dan tali teleponnya masih di bawah daun pintu, ia merasa Marilyn baik-baik saja. (Telepon dipindah ke kamar lain kalau Marilyn akan tidur.) Rudin pun merasa lega.

Ny. Murray pergi tidur. Tengah malam ia terbangun dan melihat lampu di kamar Marilyn masih menyala, padahal ia tidak pernah tidur selambat itu. Ia mencoba membuka pintu, ternyata terkunci. Ia memanggil-manggil, tetapi tidak ada jawaban. Ny. Murray ketakutan. Cepat-cepat diteleponnya Dr. Greenson. Greenson memecahkan kaca jendela untuk masuk ke kamar Marilyn.

Mereka menemukan aktris termasyhur itu rebah telanjang di ranjangnya. Lengannya terulur sebelah, memegang telepon.

Tetap rahasia

Pukul 02.25, Sersan Jack Clemmons yang bertugas jaga di Kantor Polisi Los Angeles Barat mendapat telepon dari Dr. Greenson, yang melaporkan kematian Marilyn Monroe. Tadinya ia kira ada orang yang bergurau. Jadi, ia tidak menghubungi mobil patroli, melainkan datang sendiri ke sana.

Ia merasa curiga, karena kata Ny. Murray mereka menemukan mayat Marilyn lewat tengah malam. Mengapa baru pukul 04.25 polisi diberi tahu? Apa yang dilakukan selama itu?

Kata Dr. Greenson, ia menelepon studio dan orang-orang yang mempunyai hubungan bisnis dengan Marilyn Monroe. Mustahil hal itu makan waktu empat jam, pikir sang sersan. Apakah selama itu ada orang yang berusaha menghilangkan bukti-bukti kejahatan?

Pagi itu saya menemukan pesan di meja saya: "Dr. Curphrey meminta Dr. Noguchi melakukan autopsi terhadap Marilyn Monroe." Tidak terpikir oleh saya bahwa Marilyn Monroe yang dimaksudkan ialah Marilyn Monroe pemain film yang termasyhur itu. Saya pikir banyak orang Amerika yang namanya sama.

Saat itu saya memang sering harus menangani kasus-kasus sulit, karena dari staf Dr. Curphrey (ia chief medical examiner/ Koroner di Los Angeles), kebetulan hanya saya seorang yang menjadi asisten profesor patologi pada Loma Linda University Medical School dan menguasai patologi klinis maupun anatomis.

Karena terjadi kontroversi, Dr. Theodore J. Curphrey mengadakan panel dengan menunjuk sejumlah ahli psikologi untuk mewawancarai keluarga Marilyn Monroe, teman-temannya, dan orang-orang yang berhubungan bisnis dengannya. Mereka berusaha mengetahui latar belakang psikologis bintang film itu: Apakah ia orang yang bisa bunuh diri atau tidak? "Panel bunuh diri" merupakan barang baru saat itu, tapi kemudian banyak ditiru di seluruh AS. Sanak keluarga hampir selalu tidak mau mengakui atau tidak mau percaya bahwa orang yang mereka cintai bisa bunuh diri. Namun pihak perusahaan asuransi sebaliknya mempunyai kepentingan untuk membuktikan bahwa si mati melakukan bunuh diri. Panel semacam itu biasanya bisa menolong mencarikan kebenaran.

Sayangnya, hasil keputusan panel Marilyn Monroe itu dirahasiakan, sehingga tidak meredakan kontroversi. Maksud kerahasiaan itu tadinya ialah untuk membuat setiap ahli mau berbicara blak-blakan. Panel sebetulnya menyimpulkan bahwa Marilyn Monroe bunuh diri dan hal itu baru diungkapkan kepada umum dua puluh tahun kemudian.

Desas-desus bermunculan

Para penyelidik bertanya kepada saya: bagaimana mungkin lambung Marilyn Monroe hampir kosong, kalau ia menelan begitu banyak pil? Setidak-tidaknya mesti ada kapsul atau tablet yang setengah tercerna, ada bubuk atau ada tanda merah pada lapisan lambung.

Jawaban saya ialah: Kalau kita makan makanan eksotis yang tidak "cocok", lambung kita menolaknya dan tidak mudah bagi makanan itu untuk masuk ke usus. Kalau kita menelan makanan yang sudah biasa kita makan, lambung kita tidak menolaknya. Dengan mudah makanan masuk ke usus.

Marilyn Monroe sudah bertahun-tahun minum pil tidur dan kloralhidrat. Lambungnya sudah terbiasa dengan pil-pil itu, sehingga dicernakan dan "dilempar" ke usus. Dari pengalaman saya menangani orang-orang yang ketagihan obat, sering sekali tidak tampak adanya pil.

Pertanyaan kedua: Monroe menelan sekian banyak Nembutal, yang warnanya kuning, zat warna kuning dari kapsul pasti ada di lapisan leher, esofagus, dan lambungnya. Mengapa tidak tercatat hal seperti itu?

Dalam laporan memang saya katakan bahwa di bawah lapisan lambung, pada mukosa, terdapat tanda merah perdarahan. Namun tidak benar warna kuning pada Nembutal akan tampak pada leher. Warna kuningnya tidak luntur. Sebagai bukti, sebutir kapsul itu saya jilat, lalu saya gosokkan pada kulit. Kulit tetap bersih.

Diketahui pula Dr. Greenson menyuntik Monroe sehari sebelum ia tewas. Mengapa saya tidak menemukan tanda tusukan jarum itu?

Mengenai bekas tusukan jarum Dr. Greenson, saya jawab bahwa jarum yang dipakainya halus sekali dan lukanya akan hilang beberapa jam kemudian. Pada saat autopsi, umur suntikan Dr. Greenson itu hampir 48 jam.

Namun kabar angin memang subur setelah kematian Monroe. Ada yang tidak masuk akal, seperti keterangan seorang petugas ambulans yang menyatakan menyaksikan sendiri Marilyn dibunuh seorang dokter di depan matanya. Ada lagi yang berkata, Marilyn Monroe dibius di rumah Frank Sinatra di Palm Spring, lalu mayatnya diterbangkan ke rumahnya di Brentwood. Ada pula yang menuduh Ny. Murray digaji oleh Peter Lawford sejak kematian Marilyn Monroe dan Pat Newcomb (yang menginap di rumah Marilyn tanggal 3 Agustus) disewa oleh Pierre Salinger atas suruhan kakak-beradik Kennedy untuk membungkam bintang film itu.

Tahun 1982, dua puluh tahun setelah kematian Marilyn Monroe, dikeluarkan pengumuman resmi yang menyatakan bahwa semua hasil penelitian yang dilakukan sama sekali tidak menunjang teori pembunuhan terhadap Marilyn Monroe.

Jadi? 

Dibaca 8649 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014