Bandung Selatan identik dengan Ciwidey atau Penga­lengan. Namun, jika mau sedikit tantangan, cobalah Gunung Puntang. Objek wisata yang berlokasi di dae­rah Banjaran ini…" />

Gunung Puntang: Reruntuhan Masa Silam

author : Agus Surono
Saturday, 12 March 2011 - 01:10 am

Share |

Bandung Selatan identik dengan Ciwidey atau Penga­lengan. Namun, jika mau sedikit tantangan, cobalah Gunung Puntang. Objek wisata yang berlokasi di dae­rah Banjaran ini menyajikan wanawisata yang masih alami dan sejarah radio pemancar milik Belanda.

Objek wisata Gunung Puntang berada di komplek Gunung Malabar, dengan ketinggian sekitar 1.300 m di atas permukaan laut dan suhu berkisar antara 18o - 23o C . Berdasarkan cerita rakyat Pasundan yang berkem­bang di masyarakat, di sini dulunya terdapat suatu kerajaan yang disebut Nagara Puntang. Di beberapa tempat ditemukan batu-batu yang diduga ada kaitannya dengan peninggalan sejarah Gunung Puntang seperti batu korsi, batu kaca-kaca, dan batu kampaan.

Alam memang menjadi jualan utama di Gunung Puntang. Ada areal perkemahan yang datar dan sudah dilengkapi dengan fasilitas mandi-cuci-kakus; juga warung bertebaran di seputar areal perkemahan. Mau jalan-jalan di hutan? Bisa coba ke Curug Siliwangi. Atau sekadar menikmati hawa segar pegu­nungan sambil main air sungai yang dingin boleh juga. Jika sudah mampir ke sini cobalah menu yang mungkin jarang Anda temui: roti tawar gore­ng! Tadinya saya mengira makanan berbentuk kotak dan terbungkus adonan itu tempe goreng. Namun setelah dimakan baru tahu, ternyata ini roti tawar yang diperlakukan bak tempe. Dimakan panas-panas di pagi yang dingin sungguh nikmat sekali.

Tapi yang membawaku ke sini adalah situs peninggalan Belanda berupa pemancar radio. Tahun 1923 di sini dibangun Stasiun Pemancar Radio Malabar. Perintisnya adalah Dr. de Groot. Pemancar radio ini sangat fenomenal, bahkan untuk ukuran saat ini. Bayangkan saja antena yang digu­nakan untuk memancarkan sinyal ra­dio memiliki panjang 2 km, memben­tang di antara Gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 m. Bagaimana mereka membangun konstruksi seperti itu dengan teknologi yang ada pada masa tersebut menjadi tanya yang menggelitik.

Pada bagian dasar lembah, diban­gunlah sebuah stasiun pemancar guna mendukung komunikasi ke negeri Belanda yang berjarak sekitar 12.000 km. Daerah ini dipilih karena arah propagasi struktur antena tersebut memang menuju negara Kincir Angin tersebut; selain tempatnya cukup tersembunyi.

Stasiun ini menjadi unik sebab murni pemancar, sedangkan penerimanya ada di Padalarang (15 km) dan Ran­caekek (18 km). Karena teknologinya masih boros energi, dibangunlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Dago dan Pengalengan, serta PLTU di Dayeuhkolot - lengkap dengan jaringan distribusinya - hanya untuk memenuhi kebutuhan si pemancar. Pemancar ini memang masih meng­gunakan teknologi kuno yang boros energi, yaitu busur listrik (poulsen) untuk membangkitkan ribuan kilowatt gelombang radio dengan panjang gelombang 20 - 7,5 km.

Sayangnya, bangunan-bangu­nan itu tinggal puing-puingnya saja. Hanya tersisa beberapa potong tem­bok saja karena struktur bangunan­nya terbuat dari separoh kayu dan separuh tembok. Sisa bangunan yang masih terlihat utuh adalah Kolam Cinta, begitu papan petunjuk menye­butnya. Bentuknya memang seperti hati, dengan undak-undakan untuk masuk kolam ada di bagian atas. Ada kepercayaan masyarakat setem­pat, jika pasangan yang mencuci muka atau mandi di kolam ini akan langgeng hubungan mereka. Saya hanya tersenyum simpul mendengar soal itu. La bagaimana, wong saat itu airnya tidak ada hehe...

Di areal ini pula terlihat sisa-sisa perkampungan (Kampung Radio - Radio Dorf) yang dihuni awak stasiun pemancar dengan segala fasilitasnya, seperti lapangan tenis, rumah dinas petugas,bahkan gedung bioskop. Lokasi perkampungan ini sekarang ditempati bumi perkemahan Gunung Puntang.

Tak jauh dari bumi perkema­han ada Gua Belanda. Gua ini bisa ditelusuri dengan mudah, meskipun cenderung becek pada lantainya. Mulut gua ini cukup tersembunyi, di antara lekukan tanah yang bila diperhatikan secara sekilas mirip wajah harimau. Tinggi lorong sekitar 170-an cm sehingga tidak begitu leluasa menelusuri sebab harus agak menunduk. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, ujung lorong gua akan menuju ke sebuah curug, yakni Curug Siliwangi. Tambahan dari cerita itu, barang siapa berhasil me­nyusuri lorong sejauh sekitar 1 km itu dan sampai ke Curug Siliwangi akan mendapatkan sesuatu yang meru­pakan peninggalan Prabu Siliwangi. Namun, untuk yang ini belum ada buktinya. Saya pas ke gua ini hanya mampu menyusuri sejauh 100-an m karena hanya mengandalkan senter dari ponsel.

Untuk mencapai Gunung Pun­tang, dari Bandung bisa melalui dua jalur: dari Soreang atau dari Banjaran. Dari Soreang ambil ke kiri arah Pen­galengan dan nanti ada petunjuknya untuk berbelok kanan. Pada bulan Agustus jalanan ini sedang dibeton sehingga beberapa ruas macet. Sementara kalau lewat Banjaran relatif bagus jalannya namun akan terhadang kemacetan pasar. Selepas Pasar Banjaran nanti bertemu dengan pertigaan dan ambil jalan yang ke kiri. Dari belokan ini, sekitar 5 km kemudian bertemu dengan pertigaan, ambil yang mengarah ke atas. Atau perhatikan papan petunjuk Taman Bougenville.

Taman Bougenville ini letaknya berbatasan dengan wanawisata Gunung Puntang. Mengaku sebagai resort rekreasi alam Pegunungan Band­ung Selatan, Taman Bougenville bisa dijadikan tempat menginap yang layak jika tidak mau berkemah di Gunung Puntang. Wanawisata Gunung Puntang sendiri juga menyewakan cottage tapi fasilitasnya minim. Sementara Taman Bougenville yang dilewati aliran Sungai Cigeureuh memiliki fasilitas "mewah" seperti dua buah kolam renang yang airnya berasal dari sungai, taman yang asri, dan empat buah vila yang masing-masing berkapasitas sampai dengan 20 orang. Ongkos sewanya berkisar di angka Rp 750 ribu. Fasilitas lain ada restoran Waroeng Goenoeng, taman bermain anak, lapangan volley, serta flying fox.

 

Dibaca 5257 kali
Share |
comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014