Ketika Wayang Bisa Goyang Ngebor
author : Novani NugrahaniSaturday, 14 April 2012 - 07:24 am
Pementasan Wayang Kampung Sebelah
Intisari-Online.com - Pertunjukan wayang selama ini biasa dianggap sebagai pertunjukan yang serius dan kurang menghibur bagi sebagian orang. Seperti ingin mematahkan persepsi tersebut, Wayang Kampung Sebelah (WKS) mengubah sosok pertunjukan wayang yang serius dan sulit dicerna menjadi sebuah hiburan ringan yang sungguh menghibur namun tetap sarat isi.
Jika dalam pertunjukan wayang biasa kita menemukan tokoh-tokoh Mahabharata menjadi bintang pertunjukan semalam suntuk, dalam pementasan WKS, tokoh-tokoh itu takkan kita temukan. Sesuai dengan namanya, Wayang Kampung Sebelah menampilkan tokoh-tokoh wayang yang dekat dengan keseharian kita, layaknya tetangga kampung sebelah. Lupakan sosok Arjuna, Puntadewa, Kumbakarna, atau Rama. Yang menjadi bintang dalam pementasan WKS adalah tokoh-tokoh bernama Kampret, Karyo, Lurah Somad atau Hansip Sodrun. Bahkan, sosok-sosok selebritis seperti Rhoma Irama dan Inul Daratista ikut tampil dalam bentuk wayang.
Diciptakan dan dibentuk pertama kali tahun 2000, WKS menjadi wadah bagi para seniman wayang yang ingin mendekatkan jarak antara dunia wayang dengan keseharian manusia modern saat ini. Usaha ini juga dilatari keinginan para pendirinya untuk mengakrabkan seni wayang dengan generasi muda yang dianggap lupa dengan budaya negerinya sendiri.
Jangan harap Anda bisa mendengar alunan musik gamelan yang mengiringi berlangsungnya pertunjukan. Musik yang dipakai sebagai pengiring pertunjukan adalah peralatan musik modern seperti drum, bass, gitar listrik hingga saksofon. Lagu yang terdengar pun bukanlah tembang Jawa, melainkan lagu-lagu karya personil WKS sendiri. Untuk membuat suasana lebih akrab, sesekali terdengar juga lagu-lagu yang sedang populer dilantunkan selama pertunjukan.
Ki Jlitheng selaku dalang WKS juga terlihat mampu menuturkan cerita dan bahkan berimprovisasi serta berdialog dengan penonton. Pertunjukan yang berdurasi dua hingga tiga jam ini mengemas kisah-kisah seputar masalah sosial di masyarakat kita dengan bungkus humor dan komedi yang mampu mengocok perut penonton. Sindiran-sindiran yang dilontarkan pun cerdas, mengundang senyum dan tidak terdengar sarkas di telinga.
“Roh pertunjukan itu ada di penonton,” tutur Ki Jlitheng seusai pertunjukan. Memang, salah satu kekuatan serta keunikan WKS terletak pada interaksi antara dalang, pemain musik, dan penonton. Sahut-sahutan komentar antara pemain musik dan dalang bukan sesuatu yang aneh ditemui sepanjang pementasan. Idenya yang kreatif dan visualisasi gerakan wayang yang realistis. Kapan lagi bisa melihat Inul Daratista versi wayang goyang ngebor? Cuma di Wayang Kampung Sebelah!
O ya, WKS yang bermarkas di Solo ini bisa diintip jadwal manggungnya di sini.



