Kisah Kejujuran Dua Bocah

author : Agus Surono
Tuesday, 01 November 2011 - 07:05 am

Share |
yourldsblog.com

Ilustrasi

Intisari-Online.com - Mengajarkan kejujuran sejak dini akan membentuk pribadi yang bijaksana. Di tengah kerasnya kehidupan kota Jakarta, kita bisa bercermin kepada cerita dua bocah ini. Betapa setiap tetes rezeki harus diraih dengan berusaha. Tidak datang begitu saja.

Siang itu, saat melintas jembatan penyeberangan di sebuah jalan di kawasan segitiga emas Jakarta, saya berpapasan dengan dua bocah kurus, kumal, dan bermandikan keringat. Menenteng tas plastik hitam, mereka menawarkan tisu. Saya pun menolak tanpa peduli. Mereka membalas kecuekan saya dengan ucapan sopan, “Terima kasih Oom!”

Mereka lalu menawarkan dagangannya kepada orang lain yang lalu lalang di jembatan itu. Di ujung jembatan, teronggok kantong hitam stok tisu mereka. Saya melihatnya sepintas dan masih ada sekitar dua per tiga tisu berada di dalam kantung itu.

Ketika saya melintas kembali menuju kantor, dua bocah tadi sedang memperoleh pembeli, seorang wanita. Masih dengan senyum ceria mereka. Apalagi transaksi berhasil. “Terima kasih ya Mbak … Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka. Tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

Sayang, dua bocah itu tidak memiliki uang kembalian. Di sisi lain Mbak tadi juga tidak memiliki uang pas. Dengan sigap, salah satu dari mereka menghampiri saya yang berada tak jauh dari mereka. “Oom, boleh tukar uang enggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian pembelian makan siang tadi, Rp 4.000,-. Mungkin karena lama menunggu, Mbak pembeli tadi langsung bilang, “Ambil saja kembaliannya, Dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti. Secepat kilat ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, enggak apa-apa ambil saja!” Namun si anak berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!”

Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah saya dan mereka. Uang Rp 10.000,- digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar, “Om, tunggu sebentar ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”

“Eeh ... enggak usah. Biar saja ... nih!” saya kembalikan lagi uang itu ke si kecil. Ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya. “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ... sebentar.” 

“Enggak apa-apa, itu buat kalian,” lanjut saya.

“Jangan Oom, itu uang Oom sama Mbak yang tadi juga,” anak itu bersikeras.

“Sudahlah. Saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha menyelesaikan persoalan ini. Namun ia tetap menghalangi saya sejenak sebelum berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat. Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh Oom, kalau kelamaan, maaf.” Ia memberi saya delapan pack tisu.

“Buat apa?” saya terbengong.

“Maaf, tukar pakai tisu saja dulu Oom. Habis teman saya lama sih.” Walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tisunya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tisu dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih Om!” Mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup-sayup terdengar percakapan, “Duit Mbak tadi gimana?” suara kecil yang lain menyahut. “Lu hafal 'kan orangnya. Kali saja ketemu lagi ntar kita kasihin.”

Sesampai di meja kantor saya masih terpikir kejadian itu. Semoga mereka menjadi bijak seperti ungkapan Thomas Jefferson, presiden ke-3 AS, kejujuran adalah pelajaran pertama dari sebuah buku kebijaksanaan. (Creating Website)

Dibaca 3076 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014