Kota Tua Surabaya yang Berharga

author : Astri Apriyani
Friday, 04 January 2013 - 02:36 pm

Share |
Ayos Purwaji

Bagus Kamajaya dari Roode Brug Soerabaia.

Intisari-Online.com - Belanda pernah menjajah Indonesia. Bahkan hingga 350 tahun lamanya. Dalam rentang waktu sepanjang itu, banyak warisan yang diturunkan; fisik ataupun nonfisik.

Surabaya jadi salah satu kota yang didiami Belanda. Mereka sampai-sampai mendirikan pusat pemerintahan sendiri di kota yang kita kenal dengan sebutan Kota Pahlawan ini. Mereka juga mengembangkan pemukiman dengan arsitektur khas Eropa. Kota-kota lengkap dengan arsitekturnya berkembang pesat ketika pada 1870 di Surabaya terjadi penghapusan cultuurstelsel.

Masih bisa kita lihat kini, bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda berdiri di beberapa titik di Surabaya, di antaranya Gedung Lindeteves Stokvis di Jalan Pahlawan, Gedung Handelsvereeniging Amsterdam di Jalan Merak I, Gedung Nederland Handels Maatschppij di Jalan Karet, hingga rumah-rumah bergaya Eropa di kawasan Darmo.

Kenyataannya, pemeliharaan bangunan-bangunan khas Eropa ini tidak semudah membayangkannya. Banyak bangunan khas Eropa tersebut telantar. Bahkan nyaris roboh.

Pemerintah Kota Surabaya sendiri sebetulnya sudah melakukan upaya untuk melindungi bangunan-bangunan saksi sejarah ini. Salah satu cara dengan merilis Surat Keputusan Walikota Surabaya 1996 dan 1998 tentang 163 bangunan dan situs di Surabaya yang dilindungi. Misinya besar. Tidak hanya merawat/melindungi bangunan, tetapi juga mempertahankan struktur kota/kawasan seperti adanya.

Tapi lagi-lagi kenyataan menggigit sakit. Banyak bangunan tua yang kurang perhatian. Padahal, sejarah bangunan tersebut sangat panjang dan penting. Contoh saja, Gedung Setan di Banyu Urip Wetan.

Gedung Setan awalnya adalah rumah tuan tanah berbangsa Eropa. Ketika bangsa Eropa pergi meninggalkan Indonesia di “masa bersiap” pascakemerdekaan, gedung ini dimiliki orang Tionghoa. Pemilik rumah lalu juga keluar dari rumah itu, pergi ke luar negeri, ketika masa para pejuang membantai orang-orang Tionghoa. Kuasa rumah diserahkan kepada perkumpulan orang Tionghoa di Surabaya.

Pada era 1965, orang-orang Tionghoa kembali dipersalahkan. Gedung Setan - yang masih menjadi kediaman orang-orang Tionghoa - jadi sasaran lagi. Rumah itu dirampok habis oleh pribumi. Di depan rumah tersebut, di depan kali (dulu dua kali lebih besar ketimbang kini), ada pembantaian orang Tionghoa. Di belakang Gedung Setan, keberadaan makam-makam orang Tionghoa (bong) dihancurkan oleh pribumi. Sah-sah saja karena dirasa orang Tionghoa adalah komunis.

Kini, Gedung Setan masih ada. Ia masih berdiri kukuh meskipun tembok-temboknya mengusam. Kalau tidak ada yang menjaga fisik dan kisah gedung tersebut, generasi mendatang bisa saja akan menganggapnya hanya bangunan telantar biasa yang tidak penting.

Beruntung, Surabaya punya beberapa komunitas sejarah yang peduli pada bangunan-bangunan tua di kota itu. Surabaya Tempo Dulu (STD) dan Roode Brug Soerabaia (RBS) adalah dua di antaranya.

STD digagas oleh Bambang Irawan; pencinta sejarah dan sastra yang kini berdiam di Perth, Australia; pada 2010. Seiring perkembangan, kini sudah ada 12 admin - sebutan untuk orang-orang yang aktif di balik ‘dapur’ STD. Istilah “pemirsa” digunakan oleh STD untuk menyebut pembacanya. Pembahasan STD adalah sejarah secara umum, mulai dari awal zaman Majapahit sampai sejarah ’80-an.

Sementara itu, RBS merupakan perkumpulan pencinta sejarah gagasan Bagus Kamajaya, Ady Setiawan, dan kawan-kawan. Mereka punya fokus khusus, yaitu sejarah militer.

Bagus sendiri memang sudah sejak lama senang sejarah militer; senjata-senjata Jerman yang bagus, sejarah seragam pejuang, pengaruh Jepang dan KNIL dalam kemiliteran Indonesia, seperti itu. RBS mulai menggali, lalu membuat literatur sendiri. Awalnya untuk kepentingan beberapa orang, tapi lalu literatur tersebut direproduksi. Untuk kemudian, diperkenalkan kepada masyarakat.

Kenapa memilih nama Roode Brug, yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah “jembatan merah”? Karena isi komunitas ini sangat beragam. Selain pemerhati sejarah militer dan perjuangan, ada yang hobinya terletak di bangunan, cagar budaya, isu kebangsaan, perfilman, dan macam-macam. Mereka berusaha menjembatani semua itu. Karena Surabaya punya bangunan jembatan yang ikonik, yaitu Jembatan Merah, maka RBS menggunakannya sebagai nama komunitas.

Bagus sebetulnya sudah memulai komunitas ini sejak 2000. Baru pada 2009 bertemu Ady Setiawan. Dulu, belum ada nama RBS. Pergerakannya pun masih kecil. Mereka mengawalinya dengan membuat selebaran berisi cerita-cerita perjuangan di Surabaya. Selebaran itu lalu dibagi-bagikan ke tempat-tempat ramai, seperti Tugu Pahlawan, Taman Bungkul, dan lain-lain. Menariknya, mereka berpakaian seragam pejuang ketika membagi-bagikan selebaran tersebut. Orang-orang kemudian banyak kenal. RBS lalu terkenal. Sampai akhirnya, pada 2010, RBS resmi lahir.

Menyebar dari dunia maya, sampai jalan-jalan sejarah

STD dan RBS memiliki visi dan misi nyaris sama, yaitu menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap sejarah, termasuk bangunan-bangunan tua. Perbedaannya hanya pada titik fokus. Selama ini, STD mengaku cenderung memfokuskan diri di dunia maya. Melalui Nikki Putrayana, Bambang mengatakan, “Kepedulian terhadap warisan budaya bukan cuma dari jalan-jalan, tapi diberikan info seluas-luasnya soal sejarah. Kami (STD) lebih fokus pada informasi.” 

STD berusaha memberikan informasi sebanyak-banyaknya tentang sejarah Surabaya melalui tulisan dan foto. Semua ditampung dalam situs dan laman jejaring sosial. Mengenai referensi, admin-admin di Indonesia terbantu oleh Bambang yang berada di Perth. Seringkali banyak referensi sejarah Surabaya dikirim dari Perth dalam format digital.

Nikki menguraikan, “Kami cenderung membangun kepedulian lewat tulisan sejarah.” Hal ini penting karena banyak orang tidak tahu kalau suatu bangunan tua yang nyaris roboh ternyata penting.

Itulah yang STD lakukan, meluruskan yang salah. Mereka ingin memberikan kisah sejarah yang (kalau di sekolah) kurang lengkap dan kadang-kadang bias.

Di luar kesibukan atas nama STD, beberapa admin sangat diperbolehkan untuk ikut program kesejarahan. Seperti dua admin STD yang diminta untuk menulis soal trem dalam AyoRek!, proyek buku kerja sama dengan Marco Kusumawijaya dan beberapa komunitas lain.

Salah satu misi STD juga adalah menjadi pendamping anak-anak. Ini adalah tujuan jangka panjang. Dalam bayangan mereka, nantinya STD bisa masuk ke sekolah-sekolah, bekerja sama dengan staf guru, berhubungan dengan guru-guru sejarah, dan punya program untuk berbincang-bincang di kelas dengan siswa-siswi tentang sejarah yang lebih lengkap tadi.

Dalam waktu dekat, STD punya rencana merilis suatu program berkaitan dengan kecintaan mereka terhadap sejarah Surabaya. Nikki berharap, program yang berbentuk aktivitas konkret ini - bukan virtual - mampu memotivasi masyarakat Surabaya untuk lebih peduli terhadap sejarah kota sendiri.

Jika STD menyebarkan kecintaan terhadap sejarah melalui dunia maya, lain lagi dengan RBS. Komunitas Jembatan Merah ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan turun ke jalan. Mereka melakukan riset terhadap sebuah peristiwa sejarah, dan seringkali mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang jarang terungkap.

Semisal, sejarah tentang Shigeru Ono. Ia adalah orang Jepang yang menjadi tentara Jepang. Namun, ketika Jepang kalah oleh sekutu dan Indonesia merdeka, Ono merasa harus tetap mempertahankan Jawa. Ia memihak Indonesia dan berjuang melawan Belanda, hingga kehilangan satu lengannya dalam sebuah pertempuran di Malang. Ono kini masih hidup. Usianya sudah 94 tahun. Ia bisa ditemui di rumahnya di Batu, Malang.

Sasaran tembak utama RBS adalah mengembalikan ingatan masyarakat tentang kepahlawanan Surabaya. Apalagi, di kota ini ada satu event perjuangan yang monumental, yaitu Peristiwa 10 November.

“Ada teman-teman dari luar negeri tanya, ‘Kenapa Surabaya dikatakan sebagai Kota Pahlawan?’ Nah, kami ingin memperkenalkan lagi bagaimana dulu orang-orang memiliki kesatuan visi, persatuan, dan rasa setia kawan yang besar sehingga mau mati-matian (bela negara),” urai Bagus. Itulah kenapa nilai kepahlawanan di Surabaya begitu kuat, menurut Bagus.

Selintas saja, mereka yang turut berjuang dalam peristiwa 10 November itu adalah arek-arek Suroboyo. Orang Surabaya di sini artinya bukan hanya masyarakat asli Jawa yang tinggal di Surabaya. Ada orang Maluku, Palembang, Bali, dan lain-lain. Seperti, orang-orang Sriwijaya (Palembang) yang bertahan di Kedung Cowek. Mereka pernah dikirim ke Asia Pasifik, lalu kembali ke Indonesia, ke Surabaya. Di Surabaya, mereka tidak mau balik ke Sriwijaya. Mereka bertempur di Surabaya. Hanya mereka inilah yang punya kemampuan untuk menembaki pesawat artileri sekutu dari darat.

Kalau tidak ada yang melestarikan kisah-kisah perjuangan tentara Indonesia semacam ini kepada generasi selanjutnya, sejarah pasti hilang. Oleh sebab itu, selain melalui penelitian dan tulisan-tulisan mendalam di internet, RBS punya cara lain untuk mempelajari sejarah bangsa.

Caranya, salah satunya dengan trip sejarah. RBS punya dua rute trip: Rute Kebangsaan dan Rute Perjuangan. Beberapa orang dari RBS akan bertindak sebagai pemandu trip. Biasanya, trip ini berbayar.

Rute Kebangsaan menjelajahi tempat-tempat yang terkait tokoh-tokoh perjuangan Indonesia. Mereka akan mengajak peserta trip ke - antara lain - rumah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto yang sekaligus rumah kos Soekarno, makam WR Supratman dan rumahnya yang difungsikan sebagai museum, makam Dr. Soetomo, Tugu Pahlawan, dan Hotel Yamato.

Untuk Rute Perjuangan, kita akan dibawa ke Hotel Majapahit (tempat perobekan bendera Belanda jadi bendera Merah Putih), SMAK St. Louis (tempat pengibaran pertama bendera Indonesia di Surabaya), Gedung Nasional Indonesia, makam Dr. Soetomo, Gedung Internatio, dan Bank Escompto (Bank Mandiri).

Atau, yang menarik, Komunitas Jembatan Merah ini punya satu agenda acara, yaitu mengunjungi para veteran. Mereka mengajak orang-orang yang tertarik untuk ikut serta. Program ini terbuka untuk siapa saja. Misalnya pada Hari Kemerdekaan RI 2010, RBS mengunjungi para veteran pejuang khusus cacat veteran yang tergabung dalam Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI) wilayah Kota Surabaya. Sekretariat KCVRI Surabaya ini berada di Jalan Rajawali, berdiam di bekas kantor komunikasi Belanda.

Pernah pula menggelar acara penggalangan dana untuk para veteran cacat perang kemerdekaan yang kebanyakan sudah dalam keadaan sakit karena tua. Acara ini merupakan kerja sama RBS dengan komunitas-komunitas lain, seperti Surabaya Tempo Dulu, Surabaya Historical Reenactment, dan Komuter.

“Para veteran itu senang kalau kita mengorangkan mereka. Mengingatkan lagi kalau mereka juga berjasa untuk negara,” tutur Bagus.
RBS juga kerap mengadakan acara kolaboratif. Seperti pada Peringatan 10 November tahun ini, RBS bekerja sama dengan Pemkot Surabaya mengadakan Parade Surabaya Juang. Dalam parade, ada re-enactment (reka ulang) berbagai peristiwa sejarah , seperti menceritakan pertempuran di viaduk dekat Tugu Pahlawan.

Di luar itu, RBS juga melakukan berbagai penelitian. Bekerja sama dengan pihak akademis, mereka meneliti tentang monument-monumen 10 November di Surabaya. Terkait di dalamnya alasan pembangunan monument, tujuan pembangunan, dan testimoni dari orang-orang yang terlibat dalam pembangunan monumen-monumen tersebut. Hasilnya, dibagi ke masyarakat. Seperti monumen di Wonokromo. Banyak orang tidak tahu fungsi monumen tersebut, sampai habis dicoret-coret, rusak, dan digunakan sebagai jemuran.

Salah satu PR RBS adalah memperkenalkan kembali bangunan-bangunan di Surabaya yang dilupakan seperti ini kepada masyarakat. Mungkin tidak hanya RBS saja, tapi ini juga pekerjaan rumah untuk STD dan komunitas-komunitas historia lain di Surabaya. Bahkan, menjadi tugas rumah untuk masyarakat secara umum. Pertanyaan retoris yang klise patut diucap di sini: kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli pada sejarah bangsa sendiri?

Dibaca 1613 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014