Kris Biantoro: Dipingpong di Cina

author : Agus Surono
Friday, 24 June 2011 - 06:00 pm

Share |
wordpress.com

Ilustrasi

Alternatif menjalani transplantasi di Tiongkok sudah mulai saya pikirkan tahun 2000-an. Saya ikuti perkembangan berita seputar aktivitas yang belakangan makin menjadi ladang bisnis itu. Menjelang penyelenggaraan Olimpiade Beijing 2008, sorotan terhadap negeri itu bertambah gencar, termasuk kecurigaan pada bisnis transplantasi organ tubuh manusia. Negara Barat dan aktivis hak azasi manusia mempermasalahkan asal-usul organ. Kalau pemerintah Tiongkok tak bisa menjelaskan, banyak negara mengancam boikot olimpiade. Untuk sesaat, pemerintah Cina memperketat aktivitas transplantasi organ tubuh.

Karena keinginan sembuh yang sangat kuat, saya pun mencoba ikhtiar ke sana meski dengan berspekulasi. Tanpa informasi dan data memadai, saya mempercayakan nasib kepada teman-punya-teman yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Saya dan istri berangkat pada November 2007. Menunggu ginjal yang cocok satu minggu, operasi dan penyembuhan dua minggu, sehingga seminggu sebelum Natal sudah bisa pulang ke tanah air. Sesederhana itu jalan pikiran kami.

Di Guang Zhou saya disambut Mr. X yang katanya telah lama tahu saya, bahkan mengidolakan saya. Mr. X adalah temannya teman yang dikenal oleh teman saya di Jakarta. Dengan meyakinkan dia menyuruh saya membuang semua obat yang saya bawa dari Jakarta seraya membolehkan saya makan apa saja. Antara ragu dan senang, otak butek saya merasa mendapat pelampiasan karena sebelumnya selalu dihadapkan pada banyak larangan makan.

Mr. X menceritakan tentang keadaan Tiongkok saat itu bahwa operasi transplantasi, terutama jeroan, diutamakan untuk orang Tiongkok sendiri. Baru, kalau ada kelebihan, diberikan kepada orang asing. Jadi, kalau ada lima pasien operasi transplantasi, yang satu orang asing, pihak rumah sakit hanya memberitahukan empat operasi ke luar. Nah, ini hebatnya. Semua orang asing yang mau operasi transplan, harus mau diganti namanya menjadi nama Cina. Nama saya pun diganti menjadi Li Ping (An). Artinya: semoga lekas sembuh, sesuai huruf/karakter Cina-nya.

Satu hal yang ditekankan, saya tidak boleh menyebut diri sendiri sebagai Yi Ni Ren (orang Indonesia), tetapi Hua Ren (peranakan). Kenapa? Karena di Tiongkok, Yi Ni Ren terkenal kaya dan royal. "Pak Kris jangan pernah menyebut diri Yi Ni Ren, nanti harganya digebuk." Begitu merdu kata-kata itu, seolah-olah Mr. X betul-betul memikirkan kepentingan saya.

Hebatnya lagi, kalau nanti transplantasi ginjal bisa dan sudah dilakukan, dokter-dokter di sana tak mau menerima cek atau apa pun yang berhubungan dengan bank. Semuanya tunai. Cash & carry, salam tempel! Jadi, uang untuk transplantasi ginjal yang jumlahnya seharga rumah sederhana di Indonesia, saya masukkan semua ke dalam sebuah bantal bayi dan saya ikatkan di pinggang. Pagi, siang, sore, berjalan ke mana pun, saya selalu membawa buntelan itu. Dengan jaket kulit supaya kelihatan sangar.

Ternyata sudah 10 hari kami menganggur. Tidak ada apa pun yang dikerjakan kecuali makan dan belanja pakaian yang harganya murah. Kemudian saya diundang ke RS Sun Yat Sen yang kelihatan tua, gelap, dengan pasien yang membeludak sampai ke koridor. Hati saya miris. Inikah tempat yang akan saya singgahi? Bagaimana mau berkomunikasi kalau tak ada seorang pun bisa berbahasa Inggris? Apakah saya akan menghabiskan hidup di sini?

Sambil menunggu hasil pemeriksaan, Mr. X mengajak saya ke Nan Fang Hospital. Rumah sakit ini besar, bagus, bersih, dengan seorang profesor yang bisa berbahasa Inggris. Seingat saya, di Jakarta dulu saya juga dijanjikan untuk dirawat di rumah sakit ini. Di sana saya periksa darah dan kulur jaringan lagi. Saya baru sadar betapa transplantasi ginjal cukup rumit. Selain golongan darah saya yang O harus sama dengan donor, harus ada enam titik kultur jaringan yang sama. Itu mustahil terjadi karena enam kesamaan hanya terjadi di antara saudara sekandung. Tapi pihak Nan Fang Hospital berjanji bisa melakukan transplantasi dengan kesamaan 3-4 titik kultur jaringan saja.

Hasil dari RS Sun Yat Sen mengatakan antibodi saya tinggi sekali dan tidak bisa langsung menjalani transplantasi - itu pun kalau mendapat donor.

Mr. X mencoba menenangkan saya. Hampir setiap malam sejak itu, dia selalu menyarankan agar saya berpuasa, "Malam nanti ada ginjal," katanya tak bosan-bosan. Itulah akibat kesembronoan saya yang berangkat ke Tiongkok dengan rekomendasi dari temannya teman yang punya teman.

Suatu malam datang dua orang pastor asal Semarang. Kedua rohaniwan kakak beradik itu, Pastor Gondo dan Pastor Yitno, menemukan saya setelah bersusah payah mencari - karena data diri saya telah berganti menjadi Li Ping An, bukan Kris Biantoro. Mereka diminta oleh seseorang untuk "menyelamatkan" saya dari kondisi terombang-ambing. "Lagi pula Mas Kris tidak kelihatan sakit," kata Pastor Gondo yang pernah menjalani transplantasi ginjal di Guang Zhou ketika pemerintah Cina masih terbuka soal itu. Kebetulan pula, kedua kakak-beradik itu adik kelas saya di SMA Kolese De Britto di Yogyakarta.

Rangkaian penyelamatan membawa saya kepada Prof. Na Ning, orang yang menangani langsung transplantasi ginjal di Guang Zhou. Perjumpaan saya diperantarai pasangan Halim dan Mira, orang Indonesia yang juga tengah menunggu ginjal donor. Profesor itu membawa notes kecil berisi daftar pasien transplantasi. Ketika menemukan nama saya di dalam daftar itu, ia terkejut karena nama saya ditulis dengan tinta merah. Katanya, "Dengan kondisi seperti sekarang ini, saya pastikan tak ada rumah sakit yang bersedia mengoperasi kecuali antibodi Anda diturunkan. Tapi awas, menurunkan antibodi itu mahal sekali. Harus disuntik teratur seminggu sekali dalam satu bulan. Jadi empat kali suntik dan baru berani dioperasi. Itu pun kalau ada ginjal yang cocok." Saya jadi mengerti kenapa Pak Ali Sadikin almarhum konon sampai dua tahun di Tiongkok.

Menyadari saya hanya dipingpong ke sana kemari tanpa kejelasan, dan penggantian ginjal pun ternyata tidak sederhana, bahkan bisa mengancam nyawa, saya memutuskan diri untuk pulang. Dengan tangis karena tak mendapatkan ginjal, kami berpisah dengan keluarga Halim yang akhirnya mendapatkannya. Tapi tiga bulan sekembali ke Jakarta, Halim dipanggil Tuhan.

(Bersambung ....) 

Dibaca 3221 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014