Memperhatikan Atau Memerhatikan?

author : Astri Apriyani
Sunday, 29 April 2012 - 07:35 am

Share |
Dok. Intisari

Ilustrasi

Intisari-Online.com - "Bahasa itu tidak monoton. Dia bisa muncul dalam berbagai ragam dan laras," Nazaruddin, M.A., pengajar Program Studi Indonesia FIB UI menyatakan demikian. Oleh karena itu, kita kerap menemukan penggunaan bahasa atau pembentukan kata dalam bahasa Indonesia yang tidak konsisten. Salah satu kasus inkonsistensi terjadi pada penggunaan "memperhatikan" dan "memerhatikan".

Kenapa ketidakkonsistenan ini bisa terjadi? Menarik garis ke belakang, semua berawal dari perubahan sikap dari pengguna bahasa Indonesia itu sendiri, yaitu si penyusun kamus. Dalam hal ini, merujuk kepada Pusat Bahasa. Jika kita akrab dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pasti akan timbul kesadaran soal inkonsistensi pada kamus besar kita.

Sampai kini, Indonesia memiliki empat edisi KBBI yang disusun oleh Pusat Bahasa. Edisi I terbit pada tahun 1983, disusul berturut-turut KBBI edisi II, III, dan IV pada 1991, 2005, dan terakhir 2008. Kamus paling baru, KBBI edisi IV, memuat hingga lebih dari 90.000 lema.

Kata "memperhatikan" dan "memerhatikan" berasal dari kata dasar hati berkelas kata adverbia. Di KBBI edisi I, ada dua lema hati. Hati pertama berkelas kata nomina, sedangkan yang kedua adalah adverbia. "Memperhatikan" dibentuk dari kata hati yang kedua, dengan proses seperti ini.

me-kan        memper-kan        memper- + hati + -kan = memperhatikan

Di KBBI II, ada dua lema hati, yaitu hati (N) dan hati-hati (v). Sementara, muncul lema baru di ranah /p/, yaitu perhati. Perhati adalah kata jadian dari hati yang berkelas kata adverbia menurut KBBI I. Kata tersebut adalah kata bentukan, bukan kata dasar. Ketika mendapat imbuhan me-, mem-per-kan, hasilnya adalah memperhatikan. Bukan lagi me-kan dengan kata dasar perhati.

me-kan        me- + perhati + -kan (me- jika bertemu /p/ akan melebur) = memerhatikan

Di KBBI edisi III dan IV, lema yang ada hanya hati. Perhati ada, tetapi penjelasannya merujuk ke lema hati. Dua edisi terakhir KBBI kembali merujuk kepada KBBI asal, yaitu KBBI I. Sehingga, bentuk afiksasi yang terbentuk kembali menjadi memperhatikan, dengan kata dasarnya adalah hati.

Kenyataannya, inkonsistensi terjadi – selain karena kamus besar bahasa Indonesia sendiri tidak konsisten – juga karena masyarakat pengguna bahasa juga tidak terlalu akrab dengan kamus. Banyak kebingungan terjadi. Namun, jika merujuk kepada KBBI yang paling baru, KBBI edisi IV, bentuk yang tepat digunakan untuk ragam bahasa formal adalah memperhatikan, dengan kata dasar hati.

Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2013