Mengintip Kekejaman dari Balik Kamera

author : Agus Surono
Wednesday, 13 June 2012 - 04:00 pm

Share |

Intisari-Online.comPeople I Have Shot (1990) karya Sebastian Rich dan Lise Mayes mampu membuat pembacanya larut dalam pengalaman penulisnya yang amat beragam. Dari hujan bom di Libanon sampai memukul pantat pangeran Inggris. Buku ini adalah potret profesionalisme seorang juru kamera berita, yang tahun 1985 meraih predikat "Cameraman of the Year" Inggris.

Tanggal 17 Agustus 1953 ibu melahirkan bayi terpanjang yang pernah dilahirkan di RS Hyde Park Corner, London, sepanjang kurun waktu 50 tahun. Bisa dikata itulah satu-satunya "prestasi" saya semasa kanak-kanak.

Ibu saya, Melody Wendy Florence North Squires, lahir dan dibesarkan di Yangoon (Rangoon), Myanmar (Birma). Kakeknya komisaris tinggi Inggris di Myanmar. Sebagai hakim keliling, orang menyebutnya "algojo". Neneknya, Gaga, pemuka suku, asli Myanmar.

Nenek buyut Gaga memang bukan wanita sembarangan. Ketika dua ekor ular kobra menyusup ke rumah, ia menembaknya dengan revolver, lalu kulit kobra yang malang itu ia suruh buat sandal! Ketika Jepang menyerbu, Gaga yang sudah janda membawa kabur putri dan cucu perempuannya yang waktu itu masih kecil, berikut emas berlian senilai £ 250.000 menuju lapangan udara terdekat. Dengan menodong seorang pilot, ia terbang ke sebuah bandara milik Inggris. Lalu dari sana baru kabur ke Inggris.

Ibu saya pemain piano dan cello konser profesional. Sebaliknya, ayah berasal dari keluarga pekerja. Kakek ahli mesin pesawat terbang, sementara ayah beralih-alih profesi dari pelukis sampai sutradara film.

Berhubung profesi ayah yang berganti-ganti terus dan ayah-ibu sering bertengkar, semasa saya kanak-kanak kami terus berpindah-pindah keliling Eropa. Kalau tidak menumpang di rumah kawan, ya kenalan atau famili.

Batal jadi bandit

Walaupun termasuk anak badung, sejak masih sekolah saya sudah tertarik pada fotografi. Saya ikut kursus. Tapi akibat tertangkap basah mengendarai skuter curian, saya dikurung di penjara remaja Brostal selama 3 bulan. Di sana tak cuma dikurung 24 jam, tapi juga harus berkelahi untuk bertahan hidup. Maka begitulah, saya "lulus" dari sana sebagai bajingan cilik. Hanya beberapa bulan kemudian saya ngebut, tapi dibebaskan dengan masa percobaan 6 bulan.

Kebadungan saya tak berhenti di situ. Tanpa sepengetahuan ibu, saya keluar dari sekolah setahun lebih awal, lalu bekerja serabutan: di studio foto, di tukang daging, sampai pernah pula magang di tukang sofa. Sementara itu banyak kawan saya yang sedang ambil ancang-ancang jadi penjahat tulen. Suatu kali saya diajak ikut latihan. Mereka akan merampok kantor pos, saya disuruh jadi sopir merangkap pengawas di luar.

Untung saja, pada hari yang sama saya mendapat tawaran menjadi asisten kamar gelap studio foto. Saya pilih yang ini. Kalau tidak, mungkin saya sudah berkarier di dunia kriminalitas. Gara-gara pekerjaan ini pula, minat saya pada fotografi disegarkan lagi. Sayang, pekerjaan ini pun tidak tahan lama. Habis, saya ditawari kenaikan gaji £ 50 asalkan mau "main-main" dengan bos pria saya. Tentu saja saya ogah. Untung waktu itu pekerjaan masih gampang, meski untuk anak ingusan tanpa pengalaman macam saya.

Saya langsung bekerja lagi di perusahaan pemrosesan film, kemudian pindah ke bagian perawatan di perusahaan Lee Electric. Tapi lagi-lagi saya dipecat akibat dosa yang berjibun: mabuk, mencuri truk generator, lalu menjungkirbalikkannya di stasiun bawah tanah Park Royal.

Masih untung saya cuma ditendang ke luar. Sejak itu saya belajar menghadapi hidup secara lebih serius. London di tahun '60-an adalah masa jaya-jayanya fotografi. Saya gaet pekerjaan yang lumayan tetap sebagai asisten freelance beberapa fotografer mode.

Belakangan saya jadi pembantu umum di Camera Effects, perusahaan yang kerjanya menciptakan efek-efek khusus untuk film bioskop. Berkat salah seorang rekanan perusahaan itu, Sheldon Elbourne, yang tak cuma guru tapi juga pendorong semangat yang hebat, saya diangkat menjadi asisten juru kamera sampai akhirnya menjadi operator kamera. Di sinilah pertama kalinya saya berkenalan dengan kamera film.

Walaupun sudah senang bekerja di sana, saya toh gelisah juga. Saya rindu terjun ke dunia action. Maka saya lepaskan pekerjaan tetap itu dan mencari pekerjaan freelance. Berkat dasar-dasar yang kuat di Camera Effects, karier freelance saya melejit dari pangkat terbawah sampai juru kamera hanya dalam waktu 5 tahun. Padahal orang lain mungkin butuh 20 tahun.

Saya menikah dengan Penny tahun 1974. Penny guru seni di sebuah sekolah di Bethnal Green, sedangkan saya mencari nafkah dengan membuat film dokumenter, film iklan, dan film-film feature. Malah akhirnya saya ditunjuk menjadi pengarah fotografi untuk dua film kelas B, meski terus terang saja, agak jelek mutunya.

Direkrut ITN

Perkenalan pertama saya dengan peliputan berita seperti jatuh mendadak dari langit. Ulster TV meminta saya melakukan peliputan selama seminggu di Irlandia Utara. Tak dinyana di tengah jalan kami terhadang peristiwa kecelakaan mobil berantai. Dalam hujan lebat saya langsung mengabadikan akibat peristiwa yang mengerikan itu. Hujan, membuat matahari senja, dan sorot lampu senter yang jadi tampak kebiruan benar-benar membangun gambar yang mengesankan. Di saat terakhir saya baru melihat ada satu mobil yang tersuruk menyendiri. Saya buka pintunya. Sopirnya seorang pria berdasi, penumpangnya wanita di jok belakang, duduk dengan tangan terlipat di pangkuan, tapi keduanya sudah tidak berkepala!

Toh ternyata saya jatuh cinta pada pekerjaan baru ini. Tak cuma karena setiap hari saya terpapar pada pengalaman baru, tapi juga dituntut selalu berprestasi baik. Pujian hanya bergaung untuk satu acara buletin berita. Sebagai juru kamera pendatang baru, saya ngotot berjuang membuktikan diri.

Kontak dengan ITN terjadi ketika saya meliput kunjungan Ratu Elizabeth ke Irlandia Utara dalam rangka perayaan ulang tahun perak pemerintahannya. Waktu itu orang menemukan bom kecil di halaman universitas di Coleraine. Kebetulan saya juru kamera satu-satunya yang mengabadikan peledakan bom tersebut oleh tentara. ITN memperoleh hasil liputan saya itu lewat Ulster TV. Setelah melacak siapa peliput beritanya, saya mereka sewa beberapa kali untuk pekerjaan freelance, sampai akhirnya diajak bergabung dengan ITN. Baru setelah tiga kali ditawari, saya terima. Begitulah ceritanya saya menjadi tenaga tetap di ITN.

Ketika pertama kali ke El Salavdor dalam bulan Januari 1981 tak seorang pun penonton maupun wartawan di Inggris punya gambaran yang cukup tentang negara itu dan bagaimana situasinya.

Revolusi Nikaragua terjadi tahun 1979. Begitu Reagan menjadi presiden pada tahun 1980, isu Amerika Tengah semakin menghangat di negara Paman Sam. Perhatian masyarakat internasional makin besar ketika Uskup Romero dibunuh saat mengikuti misa. Itu belum cukup, tamu-tamu yang datang di pemakamannya pun dibantai. Berbulan-bulan Jon Snow mendesak ITN untuk mengirimkan saya ke sana sebelum akhirnya mereka setuju.

Maka suatu hari saya sudah duduk di sebuah hotel di Miami, menunggu penerbangan lanjutan ke San Salvador keesokan harinya. Waktu itu saya belum pernah meliput perang yang sesungguhnya. Gambar-gambar yang ditayangkan CBS di TV sungguh mengerikan. Percaya tidak, saya sampai berpikir serius akan kabur! Apalagi saya dikirim untuk menggantikan juru kamera ITN bernama Ian Mates yang kepalanya diledakkan ranjau darat.

Begitu tiba di San Salvador, kami langsung memesan kamar di Camino Real, basis wartawan luar negeri umumnya. Kota itu sendiri tampaknya belum tersentuh perang gerilya yang sedang meruyak daerah pedalaman. Karena tak seorang pun dari kru kami dapat berbahasa Spanyol, hidup kami tergantung pada orang Italia bernama Marcello Zanini. Marcello tak cuma berfungsi sebagai juru bahasa, tapi juga pemandu plus seksi repot.

Bahaya paling besar: ranjau

Kami sempat juga meliput ke San Francisco. Ini bukan kota di AS, tapi sebuah basis Angkatan Laut El Salvador. Beth Nissen, fotografer koresponden Newsweek, termasuk dalam rombongan kami. Wanita Argentina ini tak pernah lupa memboyong cello-nya ke mana-mana. John Hoagland juga ikut. Fotografer yang nekat ini akhirnya tewas dalam adu tembak antara tentara dan gerilya.

Hasil liputan kami sebenarnya berlawanan dengan opini internasional waktu itu yang banyak dipengaruhi pernyataan-pernyataan resmi pemerintah AS. Akibatnya, kami tidak disukai, baik di Inggris maupun di AS (di sana ABC yang menyiarkan hasil liputan kami). Begitu pun, orang seperti tak pernah puas menonton liputan kami. Bayangkan, di masa prasatelit dan video, ketika kami harus menerbangkan film-film hasil liputan, setiap malam laporan kami dapat ditayangkan! Sungguh hari-hari yang hebat. Siang shooting, malam duduk di meja rumah bordil tempat kami menginap, menunggu Jon mengetik naskah laporannya dengan diterangi cahaya lilin.

Saking giatnya kami mengejar berita, biasanya bersama fotografer dari media massa lain, macam koresponden The Times, Michael Leapman, reputasi kami lumayan. Tiap malam sepulangnya di Camino Real, para wartawan lain yang tidak begitu suka bertualang menyerbu kami. Saat itu El Salvador belum dipandang sebagai berita penting oleh media massa umumnya. BBC baru mengirim wartawan setelah lama sekali, sedangkan di kalangan wartawan AS, El Salvador telanjur terkenal amat berbahaya.

Suatu malam sampai mati-matian kami mencari pesawat yang bisa membawa film hasil liputan kami, tapi belum berhasil juga. Keadaan di lapangan udara sunyi senyap. Baru saja kami akan beranjak pergi, mendaratlah sebuah jet eksekutif kecil. Ternyata koresponden ABC sedang bersiap-siap bersama juru kameranya untuk meliput El Salvador hanya sejauh beberapa meter dari pesawatnya!

Jon Snow membujuknya agar mampir, untuk sekadar makan malam di hotel, tapi ia menolak mentah-mentah. Rupanya ia benar-benar ngeri. Hanya beberapa menit kemudian, ia telah melompat kembali ke jet Lear-nya (sambil menggenggam film titipan kami).

Padahal di El Salvador kita bisa merasa aman sejauh kita berada bersama salah satu pihak yang berseteru. Yang sungguh-sungguh berbahaya adalah ranjau darat. Bila melewati daerah tempat gerilyawan sedang aktif, biasanya kami berjalan di depan mobil sambil mengibarkan bendera putih dan pasang mata lebar-lebar. Ranjau kadang-kadang hanya tampak berupa tutup kaleng biskuit. Ada ranjau yang diledakkan dengan kawat oleh gerilyawan yang menjaganya, bila yang lewat tentara pemerintah. Bila mereka lihat yang lewat cuma wartawan, mungkin tidak akan diledakkan. Ian Mates tewas gara-gara anak kecil pemandu ranjaunya gugup, sehingga tersandung kawat pemicu ranjau.

Yang paling mengerikan adalah hasil kerja Pasukan Maut. Korbannya ada yang lenyap tak berbekas, tapi ada pula yang dibuang begitu saja di jalanan setelah jam malam pukul 19.00.

Dalam minggu-minggu pertama di San Salvador setiap pagi, kami keliling kota selama satu jam atau lebih untuk merekam gambar para korban yang dibuang malamnya. Acara "hitung mayat" ini dilakukan sebelum sarapan, sebagian untuk memburu waktu sebelum mereka diangkut ke rumah jenazah atau diambil keluarga.

Rata-rata yang kami temukan sekitar selusin korban, umumnya pria berusia antara 15 dan 40 tahun. Seperti umumnya orang yang dibesarkan di lingkungan yang aman tenteram banyak menonton film koboi, saya telanjur percaya bahwa luka akibat tembakan peluru selalu berbentuk lubang yang rapi. Padahal bila seseorang ditembak kepalanya dengan revolver, hampir 70% kemungkinan, kepalanya bakal hilang. Jika pelurunya berasal dari senapan berkecepatan tinggi, kemungkinannya hampir 100% sang kepala hilang. Padahal itu pemandangan yang paling tidak mengerikan. Ada yang dicincang dengan golok, atau dipegangi di tengah jalan lalu dilindas pulang balik dengan truk.

Supaya jelas bahwa mereka hasil kerja Pasukan Maut, mayat-mayat itu dibuat bertelanjang kaki. Kadang-kadang ada yang dipotong bagian-bagian tubuhnya. Namun setelah beberapa minggu, kami tak lagi meneruskan acara "hitung mayat". London tidak mau menayangkan gambar-gambar yang menurut mereka terlalu mengerikan. Rekan-rekan saya juga capek bangun pukul 06.00. Sedangkan saya sudah terbiasa bangun pagi. Apalagi saya sedang getol-getolnya berlatih lari maraton. Jadi, saya gunakan saja waktu kosong itu untuk joging.

Suatu kali sedang asyik-asyiknya saya berlari, di depan jalur saya tampak tergeletak dua mayat yang masih baru. Di sebelah kanan ada segerombolan orang berkumpul. Saya enggan menerjang kerumunan orang yang tidak saya kenal, apakah kawan atau lawan bagi saya. Lagi pula saya tak ingin irama lari saya terganggu. Maka tak ada pilihan lain, saya lompati saja kedua mayat itu. Tak dinyana, gerakan saya ini membubarkan kerumunan lain, yaitu lalat-lalat di mayat.

Di awal 1982 kami kembali ke El Salvador. Berkat keberuntungan di sana, kami bakal memenangkan banyak penghargaan untuk berita. Bagian pertama ekspedisi itu dilakukan di luar El Salvador, untuk kemudian menyelundup masuk ke negara itu lewat perbatasan dengan Honduras untuk bergabung dengan sekelompok gerilyawan guna merekam kegiatan mereka. Kami terbang ke Honduras dari Miami, lalu menumpang pesawat Cessna bermesin satu milik badan bantuan Prancis, Aviation Sans Frontieres. Pilotnya penerbang pesawat Concorde yang di waktu senggang kerja sukarela menyalurkan bantuan ke kamp-kamp pengungsi. Sudah tentu ia mengambil risiko besar dengan mengizinkan kami ikut. Bukankah kami merencanakan akan menyelundup secara ilegal masuk El Salavador? Sebaliknya, bagi kami rute ini yang paling baik, daripada harus lima hari menembus hutan dengan jalan kaki.

Juru bahasanya filsuf

Kami berdesakan dengan karung garam dan padi-padian yang akan diantarkan ke kamp pengungsi Salvador tak jauh di perbatasan di wilayah Honduras. Mendaratnya di sebuah runway lereng bukit dengan hidung pesawat menghadap ke puncak bukit. Setelah pendaratan yang penuh guncangan tapi aman, dengan mengendap-endap kami lolos dari pengawasan petugas Honduras, lalu bersembunyi di desa sampai malam tiba.

Kali ini Jon Snow, Don Warren, dan saya ditemani oleh Renato, juga orang Italia. Renato bukan orang Italia sembarangan. Ia seorang filsuf. Gelar akademiknya banyak, salah satunya adalah doktor untuk sejarah Italia Abad Pertengahan. Di saat-saat sulit, atau sebaliknya, bila bintang-bintang di langit amat cerah, meluncurlah dari bibirnya kutipan-kutipan panjang karya Dante dalam bahasa Italia abad XIV!

Ketika hari sudah cukup gelap, Renato mengantar kami ke tempat pertemuan. Dari jalan raya kami belok menembus semak belukar sejauh ± 40 m sampai terlihat sekitar selusin gerilyawan bersenjata sedang merokok dengan kalemnya menantikan kami. Pemimpinnya seorang berpendidikan yang khusus diutus dari pucuk pimpinan untuk menemani kami. Singkatnya, dia bagian humas mereka. Honduras dan El Salvador dipisahkan oleh S. Lempa yang lebar dan deras arusnya. Sungai ini menembus pegunungan yang akan berbahaya diseberangi pada malam hari. Kami berkemah di hutan, tidur di kantong tidur.

Ketika pagi merekah, satu per satu dari kami ditumpangkan pada kano mini dari bekas drum bensin. Mereka sendiri berenang untuk mendorong kami ke seberang. Kemudian berminggu-minggu kami berjalan menembus semak belukar. Setiap pagi di saat kami bangun, rasanya jumlah anggota rombongan semakin banyak.

Medan yang kami lalui, perbukitan yang diselimuti hutan lebat. Pada saat jalan setapak sampai di ujungnya, kami pun membuka jalan dengan machete (sejenis golok). Boleh dikata selama terang tanah kami berjalan, bahkan terkadang selama 24 jam nonstop. Bila kami bertanya "Masih jauhkah?" jawabannya selalu, "Ya, beberapa jam lagi." Saya rasa diam-diam mereka senang melihat kami menderita.

Setelah berminggu-minggu berjalan, tidur di tanah ternyata bukan soal lagi. Apalagi ditambah dengan setengah tablet morfin yang kami bawa dalam kotak PPPK. Suatu hari Don bangun dengan bentol-bentol di seluruh tubuhnya yang tidak terlindung. Entah serangga apa yang menggigitnya.

Sarapan selalu berupa kopi dan tortilla dari tepung jagung. Makan siang hanya berupa istirahat 5-10 menit dengan menu sama. Bila mampir di desa, penduduk menyuguhi kami sekenyang- kenyangnya. Sayang, menu makanannya juga tortilla lagi, cuma dalam porsi besar.

Kaki kami sudah tentu lecet-lecet. Letihnya luar biasa, belum lagi efek dataran tinggi. Kadang-kadang, setelah berjam-jam berjalan, mendadak kami sadar, tadi matahari ada di depan, kok kini di belakang? Rupanya kami berjalan memutar untuk menghindari patroli tentara. Sekali kami keluar di tanah terbuka sejauh 1 mil. Tapi dalam jarak sependek itu, tiga kali kami harus menyuruk ke dalam semak-semak karena pesawat patroli tentara lewat.

Jon hampir saja!

Tidak heran setibanya di Kamp Penas Blancas, kami benar-benar "habis". Sebuah gubuk khusus didirikan untuk kami dengan tempat tidur jala gantung. Tanpa ba-bi-bu lagi langsung kami jatuhkan diri di jala itu. Waktu bangun, biar bentuk badan melengkung seperti pisang, tidur 17 jam nonstop telah memulihkan tenaga.

Dua hari berikutnya kami rekam kehidupan desa. Desa ini cukup besar. Selain tentara gerilya, ada 200-an wanita dan anak-anak. Bahkan sekolah, bioskop, dan "pabrik" seragam pun ada. Di tengah desa ada tanah terbuka dengan sebuah pohon mangga yang amat besar dan rimbun. Itulah tempat pertemuan mereka.

Kami sebenarnya telah diperingati untuk tidak melewati perbatasan desa. Suatu hari, gara-gara ingin mencari sudut pandang yang lebih baik plus tempat yang sepi untuk buang air, Jon berjalan-jalan ke hutan di sekitar desa. Ketika sedang menyusuri jalan keluar desa, secara naluri ia memandang ke bawah. Ada lubang gelap di balik dedaunan tak jauh dari ujung kakinya. Ketika dilihat lebih dekat, tampaklah ujung-ujung runcing kayu yang menghadap ke atas. Ia berada persis di tepi perangkap manusia, berupa sumur dalam yang ditutupi dedaunan dan cabang pohon. Tongkat kayu yang diruncingkan itu diselimuti dengan tinja sehingga kalaupun korban tidak langsung mati, riwayatnya bakal habis juga karena infeksi. Semangat Jon langsung terbang. Ia balik ke ranjang jalanya dan termenung-menung di sana sampai berjam-jam.

Sekembalinya ke San Salvador, kami beristirahat sebentar di sebuah hotel berbintang empat sebelum merambah semak belukar lagi. Kali ini tuan rumahnya pihak militer pemerintah. Mereka memberikan izin kepada kami untuk ikut dalam salah satu ekspedisi mereka ke pegunungan.

Rombongan kami berangkat menumpang tiga helikopter dengan pintu terbuka. Lucunya kami tepat melayang di atas hutan pegunungan yang kami tempuh setengah mati bersama para gerilyawan. Rute penerbangannya ternyata sama persis dengan rute kami dulu. Perjalanan berminggu-minggu yang amat meletihkan itu kali ini ditempuh habis hanya dalam 20 menit.

Begitu helikopter mendarat, kami makin bersemangat. Tempat terbuka itu tak jauh dari kampung gerilyawan yang kami kunjungi! Secara refleks saya segera menyusuri jalan setapak yang menuju kampung. Untung, bisikan keras Jon menghentikan saya. Si kapten muda tuan rumah kami sempat memandang penuh selidik.

Ternyata yang kami jumpai bukan lagi Penas Blancas seperti beberapa hari yang lampau, tapi beberapa gubuk hangus dan bangkai ternak. Baik gerilyawan maupun 200 wanita dan anak-anak yang tinggal di sana tak lagi tampak batang hidungnya. Menurut keterangan resmi militer, ini adalah kamp latihan 500 gerilyawan yang telah ditangkap dan bangunannya mereka ratakan dengan tanah. Tak disebut-sebut soal wanita dan anak-anak.

Si kapten muda dengan bangga berpose di bawah pohon mangga. Selain seragamnya, ia tak berbeda dengan gerilyawan muda yang berdiri di situ beberapa hari sebelumnya.

Kemudian pandangannya penuh selidik lagi.

"Saya tahu, ada wartawan yang sudah kemari," ujarnya.

Saya mulai merasa mual. "Apa yang membuat Anda berpikir begitu?"

"Lihat!" Si kapten memungut tube plastik berwarna terang. Saya kenali benda itu: penggulung film yang saya berikan kepada anak-anak di sana untuk bermain.

"Pasti, begitu kami tahu siapa wartawan itu, langsung kami bunuh." Oh.

Dihajar bom

Saya tiba di Bandara Internasional Beirut pada tanggal 24 Juni 1982 bersama Des Hamill, sound recordist Nigel Thompson, dan editor Peter Read. Kami dengar Israel makin gencar melancarkan kekerasan terhadap Libanon dan untuk itulah kami kemari. Setelah istirahat sejenak di penginapan kami, Commodore Hotel, sebuah hotel berbintang 4 yang hampir semua tamunya wartawan, kami segera keluar untuk "berburu".

Berhubung sopir langganan tak tampak, kami sewa sopir lain, salah satu dari banyak pemuda yang mondar-mandir di luar hotel untuk cari penumpang. Celana jinsnya, mobil sportnya, sama sekali tak cocok dengan pemandangan kota yang mengerikan. Ia belum pernah bekerja untuk wartawan, tapi tampak amat bersemangat. Bahasa Inggrisnya pun lumayan. Des, Nigel, dan saya segera naik ke mobilnya, sementara Peter mempersiapkan segala macam peralatan editing di kamarnya.

Supaya memperoleh gambar yang punya nilai berita tinggi, kami menerapkan modus operandi yang agak gila-gilaan. Begitu terlihat ada pesawat Israel yang baru menjatuhkan bom, cepat-cepat kami ngebut ke sana untuk merekam hasil pengeboman itu. Karena tiba di tempat kejadian 1 atau 1,5 menit setelah bom jatuh, kami masih memperoleh gambar kobaran apinya, bangunan yang porak poranda, dan korban yang sekarat. Pokoknya, semua gambar yang diimpikan editor.

Setelah kira-kira 2 jam main uber-uberan bagaikan ambulans, kami lihat satu skuadron pesawat pemburu Israel sedang menghajar habis-habisan daerah pinggiran kota tepi laut bernama Khaldi. Dari tempat kami membidikkan kamera, di tepi jalan tebing, pemandangannya sungguh luar biasa. Pesawat-pesawat tempur terbang menyapu pantai, lalu menjatuhkan muatan mereka, baik bom atau roket, disusul munculnya bola-bola api raksasa disertai kepulan asap.

Seperti umumnya anak laki-laki, sejak kecil saya sudah jatuh hati pada pesawat. Dari jarak beberapa mil, proses penghancuran Khaldi tampak romantik. Seolah-olah saya sedang merekam adegan film perang yang hebat.

Bayangkanlah Anda melihat barisan pesawat muncul dari balik matahari untuk mengebom permukiman, kafe, dan pondok-pondok wisata di pantai.

Begitu pesawat-pesawat itu pergi, langsung saja kami lemparkan semua peralatan kami ke dalam mobil dan berangkat ke Khaldi. Sebuah bom 500 kg dapat membuat kawah sebesar rumah, padahal pesawat-pesawat Israel telah menjatuhkan lusinan bom seberat itu di unit PLO yang ada di wilayah tersebut. Pas kami berhenti, sebuah bangunan di seberang jalan runtuh.

Kenaifan kami sungguh-sungguh mendekati tolol. Entah mengapa, kami demikian yakin pesawat-pesawat itu tak bakal kembali begitu sasaran kena. Ternyata kami salah besar! Mendadak seorang prajurit PLO yang masih muda berteriak-teriak, "hhi ishi ishil" ("Mereka datang!") Di langit tampak sekelompok titik yang dengan cepat membesar. Mereka langsung menuju kami dengan kecepatan 600 mil per jam. Semua romantisme kanak-kanak saya lenyap, secepat kedatangan mereka.

Mereka menukik ke arah kami dan seketika itu juga udara penuh sesak dengan gelegarnya, sampai telinga terasa sakit. Sebelum kami menyadari betul apa yang terjadi, dua orang prajurit Palestina menarik dan mendorong kami ke dalam parit (lubang) perlindungan di tepi jalan. Sambil jatuh, saya masih sempat melihat mobil kami termasuk pengemudinya, hanya 20 m jauhnya dari kami, tertelan bola api besar. Mereka kena!

Biangnya takut

Des dan Nigel pun sudah bergelung di dalam parit. Juga dua orang tentara Palestina. Sementara itu suara pesawat menderu-deru datang silih berganti, bom bersiulan jatuh. Ledakannya berulang-ulang menggetarkan tanah. Tiap kali bom meledak, tekanannya membuat wajah kami serasa ditampar, perut kami ditendang. Gelombang kejutannya membuat sekujur tubuh kami bergetar. Bermenit-menit saya bergelung seperti janin dengan wajah dibenamkan ke tanah. Saya dicekam ketakutan hebat sampai sulit bernapas. Apalagi bomnya diperlengkapi dengan setrip logam yang didesain untuk mengeluarkan desingan berfrekuensi tinggi, agar korban makin panik.

Berdasarkan jeda waktunya, lama-kelamaan kami mengetahui bahwa mereka secara teratur mengebomi parit-parit perlindungan di wilayah kami. Tak lama lagi bisa dipastikan lokasi kamilah yang kena.

Saat itu saya baru tersadar bahwa Nigel berada dalam posisi setengah duduk. la sedang berdiskusi sendirian tentang besarnya kemungkinan kami kena. Sarjana matematika itu sedang sibuk menyusun persamaan berdasarkan kecepatan pesawat, estimasi kecepatan jatuhnya bom dan luas parit kami, untuk membuktikan bahwa kami benar-benar amat sial kalau sampai kena.

Saya lihat prajurit di sebelah saya juga ketakutan. Air matanya meleleh dan satu tangannya berdarah karena cengkeraman tangannya sendiri. Kami mulai berunding, apakah tetap di situ atau berusaha menyingkir. Ketakutan membuat kami terbata-bata.

Karena tak ada yang bisa ambil keputusan, akhirnya saya bertanya kepada Des apakah kami akan shooting saja. Des setuju. Maka dengan tetap bertahan di bawah permukaan tanah, saya mulai bekerja dengan kamera saya, sementara Des berdiri memegang tangkai mikrofon. Ketika ia sedang berkata kira-kira begini, "Seperti yang Anda lihat, PLO sedang dihujani serangan udara besar-besaran", mendadak skuadron itu sudah datang lagi dengan menukik tajam.

Begitu mereka berlalu, tekad saya bulat. Saya harus enyah. Saya raih pinggiran parit, lalu mengangkat badan. Begitu nongol ke atas, alangkah kagetnya saya. Ternyata saya berpegangan pada sisa-sisa perut salah seorang prajurit yang baru kami foto dan wawancarai! Orangnya sendiri masih hidup walau telah kehilangan dua kaki dan sebagian besar isi perutnya keluar. Ia mengerang, "Help me, help me, help me." Entah kenapa, dalam kondisi seperti itu ia masih juga berbahasa Inggris.

Kami melompat ke atas. Di atas ada ancaman pesawat, di sisi kami ada prajurit yang minta tolong, sementara di otak saya terngiang-ngiang, "Di sekelilingmu tersedia gambar-gambar kelas wahid!" Namun di atas semua itu, yang terpikirkan hanyalah bagaimana bisa segera enyah dari tempat jahanam itu. Nigel muncul di samping saya. Kami sempat berusaha menyambung kabel suara ke kamera, tapi berhubung sama-sama gemetar hebat, kami tak berhasil. Akhirnya, kami hanya bisa angkat kaki mengambil langkah seribu.

Kami menuju ke sebuah bekas kafe dan beberapa pondok wisata sejauh ± 1 mil. Daerah itu di luar sasaran pengeboman. Di tengah jalan sebuah ambulans ngebut. Kami lambaikan tangan dengan penuh harapan. Eh, kami malah ditembaki. Lengkaplah sudah mimpi buruk kami.

"Oleh-oleh" cacing pita

Di kafe saya baru tahu kalau kepala saya cedera. Untung ringan saja. Setengah lusin prajurit PLO yang ada di sana memperlakukan kami dengan baik dan penuh perhatian. Ketika sebuah truk menuju kota mampir, kami diikutkan. Sambil duduk menghadap ke belakang dengan kaki berjuntai, berangsur-angsur keberanian kami timbul lagi, sampai kami lihat sebuah pesawat membuntuti. Ternyata kami menumpang kendaraan antipesawat terbang! Untunglah akhirnya kami bisa pulang utuh.

Di Beirut bukan barang baru melihat wartawan pulang terseok- seok dengan tubuh penuh debu dan darah menuju meja resepsionis hotel berbintang 4. Petugas di Commodore menyapa kami, "Sore Tuan Hamill, Tuan Rich, Tuan Thompson – hari yang baik 'kan?"

Dengan bangga kami menyerahkan hasil liputan kami hari itu kepada Peter Read. Namun nyaris saja dia mati kami cekik, gara-gara komentarnya, "Well, cuma begini aja." Kami akui, hasil liputan hari itu memang amat membosankan. Gambarnya bergoyang-goyang, tidak menampilkan suasana sama sekali, dan kebisingan yang luar biasa ternyata berada di luar kemampuan alat perekam suara kami. Alhasil, sebagian besar rekaman itu bisu!

Kemarau yang menerkam Afrika Barat sekitar tahun 1985 amat menyengsarakan. Pertanian, peternakan, semua hancur. Bersama sound recordist Jon Hunt dan reporter Jane Corbin saya dikirim ke Mali dan Pantai Gading selama beberapa minggu untuk membuat laporan khusus tentang situasinya.

Di Abijan, ibu kota Pantai Gading, akibat kemarau memang belum terlihat. Tapi begitu menuju pedesaan, di mana-mana tampak anak-anak berperut buncit, umumnya terlalu lemah untuk bergerak atau terlalu letih untuk peduli. Sepanjang hari yang terik mereka hanya terpekur di pelukan ibunya, mengisap dada keriput, yang pasti sudah tak lagi mampu meneteskan air susu.

Jon Hunt sempat terserang kolera ringan. Jane Corbin menderita akibat alergi terhadap obat pencegah kolera. Saya sendiri terkena infeksi sampai harus dioperasi tanpa pembiusan. Bahkan 3 bulan sepulangnya dari sana, baru ketahuan kalau saya membawa "oleh-oleh" seekor cacing pita sepanjang 2 m di perut. Sampai sekarang saya ogah makan daging sapi.

Semua penderitaan di Mali menghasilkan gambar-gambar paling menyedihkan yang pernah saya buat. Ironisnya, sebagian berkat laporan di Mali, tahun 1985 saya memenangkan predikat "Cameraman of the Year". Terus terang saya amat risih ketika dalam setelan jas rapi di Dorchester Hotel, menyaksikan lagi film yang saya buat itu di layar besar. Dengan hati pedih, saya terkenang kepada sebagian besar orang yang terekam di sana yang kemungkinan besar sudah tiada.

Menabok pantat calon raja Inggris

Istana Buckingham meminta ITN untuk membuat sebuah film dokumenter tentang Pangeran dan Putri Wales. Lucunya, ITN menyuruh saya. Belum pernah sekali pun saya melayani panggilan istana, baik untuk memotret maupun mengikuti tur. Apalagi membuat sebuah film dokumenter lengkap tentang pasangan paling terkenal di dunia (saat itu). Rupanya ITN menginginkan sudut pandang baru, bukan liputan yang mirip dengan yang sudah umum saat itu. Entah itu dimaksudkan sebagai pujian atau bukan.

Shooting kami yang pertama dilakukan di Istana Kensington. Kami akan merekam kegiatan Pangeran William dan Harry, kedua putra keluarga Wales, ketika mereka bermain-main di ruang keluarga. Penjaga pintu mengantarkan kami ke ruang tunggu, kemudian ke ruang keluarga supaya kami dapat mempersiapkan lighting-nya. Mulanya agak canggung juga. Ini pertama kalinya kami bertemu dengan keluarga kerajaan. Kalau shooting yang ini kurang berhasil, pasti kami diganti oleh kru lain.

Ada piano di ruangan itu, maka saya suruh kedua pangeran bermain-main di sekitar situ. Sungguh, karena semua ini belum pernah saya lakukan saya harus berpikir keras untuk membayangkan mana adegan yang menarik. Menurut pengamatan saya, foto-foto mereka selama ini terlalu kaku. Seolah-olah mentega tak bakal lumer di mulut mereka. Maka saya bertekad menampilkan kedua pangeran ini sebagai anak-anak normal, yang bertengkar, yang suka rewel juga. Perkara apakah gambar-gambar itu akan dipakai dalam hasil akhirnya, terserah nanti. Kali ini saya bersyukur bukan orang yang harus menentukan.

Saya sedang asyik "menembak" Pangeran Harry sedang bermain mobil-mobilan, ketika merasa ada yang bergayut di lutut saya. Tak cuma mengganggu, lama-kelamaan menjengkelkan juga. Saya biarkan kamera terus hidup di bahu, untuk melongok ke bawah. Ternyata Pangeran William sedang melarikan mobil-mobilannya turun-naik celana saya! Tanpa pikir panjang lagi, saya angkat calon raja Inggris itu sambil menabok pantatnya. Sejenak seluruh isi ruangan diam membisu. Oh, oh, baru saya sadar apa yang baru saya lakukan. Syukurlah tak apa-apa. Seperti umumnya ibu-ibu, Putri Diana menarik lengan William, lalu menegurnya untuk tidak mengganggu juru kamera.

Shooting pendahuluan itu ternyata OK. Tugas kami berikutnya adalah merekam perjalanan resmi pasangan ini ke Jepang, Australia, Amerika, Kep. Fiji, dan banyak lagi. Kami diberi keleluasaan penuh untuk mengakses pasangan Wales. Walaupun tidak menandatangani pemyataan kerahasiaan, produksi ini dibuat berdasarkan saling percaya. Kami diharapkan bekerja dengan cara terhormat, terutama dalam hubungannya dengan pers gosip.

Pesawat Diana disemprot antihama

Dari Heathrow menuju Melbourne kami menumpang pesawat khusus keluarga kerajaan, Royal Australian Airforce Boeing 707. Lama perjalanan 36 jam. Tadinya saya mengira interior pesawat bakal mirip pesawat dalam film Dynasty. Ternyata tidak juga. Semuanya normal-normal saja, kecuali semua perabotannya kelas satu dan jumlah kursinya sedikit. Bagian depan pesawat disediakan bagi Charles dan Diana, lengkap dengan tempat tidur dan kamar mandi. Sepanjang perjalanan, penata rambut dan pelayan pribadi sibuk menerobos tirai yang memisahkan kami dengan keluarga Wales.

Bersama-sama kami tak cuma pejabat istana, dayang putri, pelayan pribadi pangeran, penata rambut, dan para sekretaris, tapi juga para detektif dari Kesatuan Keamanan Keluarga Kerajaan.

Satu jam dari tujuan, kami mampir di Kep. Fiji. Aktivitas meningkat di dalam pesawat. Pelayan pribadi dan penata busana memilah-milah pakaian yang bakal dikenakan Pangeran dan Putri. Pedang untuk upacara digosok. Penata rambut Richard Dalton bekerja keras di balik tirai. Akhirnya, kami mendarat di Melbourne. Ternyata pesawat keluarga kerajaan pun tak luput dari semprotan antihama Departemen Pertanian Australia.

Pangeran dan Putri melewatkan 10 hari di Australia dengan mengunjungi Melbourne dan Canberra. Sepuluh hari itu benar-benar penuh dengan jalan kaki, jamuan makan malam di kedutaan besar, pertandingan polo, lomba telethon untuk sosial. Dari sana kami ke Fiji, Honolulu, lalu Washington. Di Amerika, Pangeran dan Putri disambut bagaikan grup musik pop, lengkap dengan adegan orang menjerit-jerit histeris dan menarik-narik rambut sendiri, seperti fans Beatles dulu.

Kemudian kami ke Jepang. Di sana pun sambutannya tidak berbeda. Agaknya pasangan ini menjadi idola setiap anak muda Jepang. Puluhan ribu orang berdesakan di pinggir jalan untuk menyambut. Untungnya, karena kami lebih jangkung dari orang lain, tak ada masalah jika harus berdesakan.

Posisi istimewa kami sebagai peliput dengan akses tak terbatas tidak selalu menguntungkan. Di saat harus bergabung bersama rombongan pers untuk memperoleh sudut pengambilan yang berbeda, kami diperlakukan "istimewa" juga. Wartawan lain menjauhi kami, atau di saat genting, tiba-tiba ada bahu di depan lensa saya, atau kaki kami "tak sengaja" terinjak. Pokoknya, hal-hal sepele yang amat menjengkelkan.

Sungguh menyenangkan beralih dari Australian Royal Airforce Boeing 707 ke Concorde. Memang yang belakangan ini lebih kecil, tapi punya gaya tersendiri. Kali ini kami terbang ke Wina. Sudah beberapa bulan kami mengikuti perjalanan Pasangan Wales. Kami sudah lebih diterima sebagai bagian dari rombongan, kaum paparazzi sudah tak berharap kami akan buka rahasia tentang Charles maupun Diana. Pangeran dan Putri juga sudah terbiasa dibuntuti kru TV. Suasananya santai, walau jadwalnya tetap ketat.

Diana menutup mulutnya

Di Wina Pangeran dan Putri diundang sebagai tamu kehormatan sebuah peragaan busana. Jadi selain Pangeran, Putri, beserta staf rumah tangga, kami terbang bersama lebih dari 100 model top dunia! Bayangkan, betapa menyenangkannya. Aroma beraneka parfum mahal meresapi tiap sudut kabin pesawat.

Show mengambil tempat di sebuah gedung bergaya barok yang amat cantik. Tapi ada masalah besar. Rumah tangga Wales melarang wartawan mana pun, termasuk kami, untuk merekam ekspresi wajah Sang Putri selagi mengamati show. Ini agar jangan sampai senyum atau kerutan alisnya mempengaruhi penjualan para desainer. Padahal siapa butuh gambar Putri dari belakang? Kami mau wajahnya.

Ketika sedang merekam acara latihan, timbul ide dalam benak saya. Bagaimana kalau saya bergabung dalam show? Joe dan saya menemui koreografernya. Kami jelaskan masalah yang kami hadapi. Namun saya melongo juga begitu mendengar rencananya. la usulkan agar saya berperan sebagai fotografer mode yang berjalan mundur seturut irama musik di atas catwalk. Sementara itu, saya tentu bisa mencuri kesempatan merekam wajah sang Putri.

Kami putuskan tidak akan memberi tahu petugas pers. Konsekuensinya gampang nanti. Saya didandani dengan produk desainer Paul Smith, yaitu sepatu kulit yang konservatif, celana model Cina, jas dari bahan tweed, dan rompi sutera kuning. Koreografinya begini: begitu lampu menyala saya muncul sendirian di panggung, lalu secara dramatis berlutut di satu kaki, menanti peragawati muncul dari belakang. Sesuai iringan musik, kami kemudian berdansa bersama sampai ke ujung catwalk, di sana berputar, lalu kembali. Ketika latihan Jon ternganga setengah tak percaya memandang tingkah saya. Sebaliknya, saya malah mulai menikmati "debut" baru ini. Karena uang seluruh bank di Swis pun tak akan cukup untuk menyogok Jon naik pentas bersama saya, kami menyewa kamera yang bisa dioperasikan sendirian.

Lain cerita ketika auditorium makin penuh dengan pakar mode dunia. Segala rasa percaya diri menguap, saya diserang sakit perut hebat. Rasanya saya lebih suka dilempar ke tengah kancah perkelahian massa. Tangan saya berkeringat dan gemetar, mulut kering, dada serasa akan mendapat serangan jantung mendadak. Martyn Lewis, produser eksekutif kami, kebetulan sudah amat berpengalaman berada di depan. la menghujani saya dengan kata-kata pembakar semangat.

Lampu menyala, musik berkumandang. Saya harus menanti irama yang benar, untuk maju. Para peragawati menemani saya ke sayap panggung untuk memberi semangat. Akhirnya, saya melompat ke catwalk. Si peragawati muncul, lalu kami berdansa bersama di catwalk. Di tengah catwalk, yang bagi saya serasa runway tak berujung, saya hidupkan kamera dan arahkan ke Pangeran dan Putri. Sejak saya muncul, rupanya mereka langsung mengenali saya. Putri Wales menutupi mulutnya menahan tawa, sedangkan Pangeran Charles memandang dengan ekspresi, "Dasar!"

Dibaca 1865 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014