Probiotik Dongkrak Kekebalan Tubuh

author : K. Tatik Wardayati
Tuesday, 25 September 2012 - 01:00 pm

Share |
koraorganics

Yoghurt salah satu yang mengandung probiotik.

Intisari-Online.com – Ada banyak manfaat yang bisa dipetik bila kita cukup memiliki probiotik di dalam saluran pencernaan. Selain metabolisme pencernaan bisa diperbaiki, sistem imun tubuh juga terdongkrak.

Dalam upaya penyembuhan suatu infeksi, penggunaan antibiotik kian banyak dan meluas. Sayang, obat itu ternyata tidak cuma membunuh kuman, terutama bakteri patogen atau “jahat”. Tanpa disadari, ia juga membunuh dan melemahkan kuman-kuman “baik” yang membantu proses metabolisme di saluran pencernaan. Akibatnya, keseimbangan mikroorganisme “jahat” dan “baik” tadi, terutama di dalam usus, menjadi terganggu. Padahal, keseimbangan tersebut diperlukan dalam kehidupan kita.

Jangan main-main, gangguan keseimbangan bakteri usus berdampak buruk. Selain terlihat dari gejala seperti diare dan sembelit, juga dapat dilihat dari tumbuhnya jamur (kandida) baik di saluran pencernaan ataupun di kulit, lidah putih, napas berbau, dan feses  mengandung daun kehitaman akibat serat makanan tak tercerna dengan baik.

Namun, kita tak perlu khawatir menghadapi problem tersebut. Ada “obat” lain yang bisa memperbaiki keseimbangan mikroorganisme tadi, yaitu probiotik. Sebutan probiotik diambil dari kosa kata Yunani yang berarti “untuk kehidupan”. Secara awam, yang dimaksud probiotik adalah mikroorganisme tertentu (bakteri) yang bisa menjaga atau meningkatkan keseimbangan mikroba di usus besar dan memberikan keuntungan bagi kehidupan.

Usaha untuk memahami peran antibiotik sebenarnya sudah dimulai sejak 30 tahun lalu, dan terus dilakukan dalam dekade terakhir. Ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran bahwa daya tahan usus menurun karena pertambahan usia, sedangkan penggunaan antibiotik sulit dibendung. Ditambah lagi, dari penelitian yang terus dilakukan, ternyata probiotik mampu meningkatkan kekebalan tubuh dengan membangkitkan “tentara-tentara” siap tempur dalam sistem imun tubuh.

Manfaat probiotik

Di usus kita, mikroorganisme (kuman atau bakteri) hidup bagaikan berada di sebuah “kebun binatang”. Mereka berjumlah sekitar 100 triliun (1014), sepuluh kali lebih banyak daripada jumlah sel penyusun tubuh manusia. Hebatnya, dalam “kebun binatang” yang amat padat ini mereka hidup bersama dalam keseimbangan. Mereka juga bekerja sesuai tugasnya masing-masing agar proses pencernaan berlangsung sebagaimana mestinya.

Andaikan kita dapat berkunjung ke kolon (usus besar), kita akan berjumpa dengan sekitar 500 spesies mikroba yang bertugas menuntaskan pencernaan melalui proses fermentasi, melindungi tubuh terhadap serangan bakteri patogen, dan merangsang perkembangan sistem kekebalan tubuh.

Genus Lactobacillus  dan  Bifidobacterium merupakan jenis bakteri “baik” yang dominan tidak saja di kolon tetapi juga di dalam usus halus. Dengan adanya komunitas ini, proses pencernaan makanan, termasuk sayuran dan buah-buahan, menjadi terbantu.

Lactobacillus rhamnouss GG misalnya, juga diketahui berkolonisasi di dalam usus. Orang-orang yang diganggu oleh diare akibat penggunaan antibiotik atau karena dalam kondisi melancong (penderita traveller’s diarrhoea), pantas berterima kasih kepada koloni bakteri ini. Soalnya, atas bantuan mereka ini diarenya bisa lebih cepat berhenti. Kuman yang satu ini juga berkhasiat sebagai antimikroba, karena melawan mikroba usus lainnya sambil meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi, terutama yang terjadi di usus.

Pada bayi dan anak-anak, kuman-kuman probiotik terbukti sangat efektif mengatasi diare akut akibat serangan rotavirus. Sementara galur probiotik tertentu dapat pula membantu menghilangkan konstipasi.

Di lingkungan lain, sebut saja saluran kemih dan vagina, bakteri probiotik juga berperan melindungi kawasan vital itu dari serangan infeksi. Di dalam lambung dan usus dua belas jari, probiotik menurunkan angka kejadian tukak dengan cara menekan pertumbuhan bakteri penyebabnya, yaitu Helicobacter pylori.

Dengan probiotik pula, toleransi usus terhadap laktosa meningkat dan alergi terhadap susu bisa berkurang. Gejala “salah-cerna” (maldigesti) laktosa dapat diturunkan pula dengan konsumsi produk olahan susu yang mengandung probiotik tertentu. Pada orang yang tidak memiliki laktase – enzim yang mencerna laktosa, pencernaan laktosa dapat ditingkatkan dengan meminum susu asam yang terbuat dari susu yang difermentasikan dengan Lactobacilus bulgaricus  dan Streptococcus thermophilus.

Meski baru dilakukan penelitian terhadap hewan, keunggulan probiotik mulai tampak dalam menurunkan angka kejadian kanker kolon lewat kemampuan y ang dimiliki beberapa galur bakteri asam laktat: mereka bisa menghambat perkembangan zat-zat penyebab perubahan genetik. Namun kemampuan menurunkan risiko kanker ini berbeda-beda antara berbagai galur probiotik. Mekanismenya pun ada beberapa. Ada yang melakukan pengurangan enzim tertentu pada feses, yang terkait dengan pengubahan prokarsinogen menjadi karsinogen. Ada lagi yang menstimulasi pertahanan tubuh penderita dan mengubah derajat keasaman (pH) di kolon sehingga kondisinya menjadi kurang kondusif bagi perkembangan kanker.

Mau tahu keuntungan lain yang kita peroleh dari kehadiran probiotik? Masih bejibun! Probiotik berpotensi menurunkan risiko penyakit jantung dengan menurunkan kadar kolesterol darah, meningkatkan daya tahan kolesterol LDL terhadap oksidasi, dan menurunkan tekanan darah melalui mekanisme yang belum sepenuhnya dipahami.

Mengonsumsi probiotik

Untuk bisa masuk ke dalam tubuh kita, probiotik biasanya ditumpangkan pada produk makanan atau minuman. Kendaraan yang biasanya ditumpangi adalah keju cottage, susu sapi, jus, dan susu bubuk bayi. Juga produkk olahan susu seperti pelbagai jenis susu asam, misalnya yogurt, kefir, yakult, dan dadih, minuman tradisional khas Sumatera Barat yang dibuat dari susu kerbau. (Ironisnya, dadih telah diproduksi di Jepang dengan sebutan “dadihi yogurt” tanpa kita kebagian hak patennya).

Susu asam mengandung Lacobacillus (bakteri asam laktat) yang mirip dengan jenis kuman-kuman “baik” yang menghuni usus manusia. Produk ini dihasilkan melalui suatu proses fermentasi dengan Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Karena manusia cenderung ogah repot, terkadang dijumpai kendala mengonsumsi probiotik dalam bentuk makanan dan minuman. Barangkali tak ada waktu untuk membuat kefir sendiri, atau tak suka rasa yogurt. Maka kini probiotik ada yang dikemas dalam bentu tablet, kapsul, atau granula yang praktis, mudah dibawa, dan dapat dimakan kapan saja, layaknya kita mengonsumsi vitamin atau obat.

Walau punya keunggulan begitu banyak, layaknya suplemen kesehatan dan obat, dalam mengonsumsi probiotik ada baiknya kalau kita memperhatikan soal dosis dan keamanan. Menurut dr. Lanny Lestiani, M.Sc., staf pengajar Bagian Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran UI, dosis yang dianjurkan adalah 106 – 1010 cfu (colony forming unit) bakteri hidup per hari, tergantung bentuk produk probiotiknya.

Dari laporan-laporan berbagai penelitian di mancanegara, konsumsi probiotik dinyatakan aman, bahkan oleh Food and Drug Association (FDA) di Amerika Serikat. Belum ada laporan mengenai efek sampingan dari penggunaan bakteri asam laktat selama berabad-abad, dalam bentuk susu fermentasi dan yogurt. Meskipun demikian, penelitian dan uji ilmiah tetap perlu dilakukan, khususnya terhadap probiotik jenis baru. Bagi produsen, misalnya, pembiakan kuman di laboratorium perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati, selain harus bebas dari kontaminan umum, harus bebas juga dari kontaminan berupa gen yang resisten antibiotik yang bisa saja terdapat di alam.

Selain itu, agar probiotik dapat bekerja secara efektif di dalam tubuh, ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi. Pertama, bakteri probiotik harus bisa bertahan ketika melewati lambung dan usus halus, sebelum mencapai usus besar. Bakteri probiotik juga harus tahan terhadap keasaman dan cairan empedu di usus, serta selektif dalam metabolisme zat tertentu.

Kemudian, perlekatan bakteri di dalam saluran pencernaan harus optimal untuk mendapatkan manfaat pertahanan yang baik di usus. Sementara dari segi pembuatan dan proses penyimpanan, makanan atau minuman yang mengandung probiotik perlu diolah dengan tepat, termasuk interaksi mereka dengan bahan-bahan organik lain seperti asam atau zat penghambat lain yang bisa menurunkan daya tahan bakteri itu.

Senada juga pendapat Dr. Ir. Ingrid S. Waspodo, M.Sc., dari Balai Pengkajian Biotek, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Puspiptek, Serpong. Menurut Ingrid, syarat yang harus dipenuhi suatu galur probiotik adalah bakteri yang bersangkutan bisa tetap hidup di saluran cerna dan membentuk koloni.

Kalau pun bakteri probiotik yang kita konsumsi sudah dapat berkoloni di usus, kita tetap perlu mengonsumsi probiotik tersebut setiap hari. Selain karena usus manusia bukan tempat hidup sebagian besar bakteri probiotik, bakteri-bakteri itu bekerja mati-matian untuk tubuh kita, sehingga jumlahnya akan terus berkurang. Maka, kita perlu terus memasok “tenaga kerja” bagi usus kita.

Meski telah dinyatakan aman untuk dikonsumsi, amatlah bijaksana kalau ktia tidak mengonsumsi probiotik secara berlebihan. Bukankah umumnya segala sesuatu yang berlebihan, dampaknya bisa kurang baik? Demikian pula dalam mengonsumsi berbagai produk suplemen makanan, seyogianya kita mengonsumsi sesuai anjuran yang tertera, atau kalau memungkinkan, sesuai anjuran dokter.

Probiotik bisa pula mendukung pengobatan dokter. Namun, “Perlu diperhatikan faktor umum, kondisi sakit, jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi, dan label produk yang antara lain memuat keterangan jumlah bakteri, di samping jumlah konsumsi yang dianjurkan,” kata dr. Lanny.

Untuk faktor umur, misalnya, pada bayi yang mendapat ASI, sekitar 98% mikroba di ususnya adalah bifidobakteri. Sementara pada kondisi sakit, sekitar 10 miliar saja bakteri jenis ini telah berhasil mengatasi gangguan di usus.

Oleh sebab itu bifidobakteri diduga berperan melindungi bayi yang diberi ASI dari serangan infeksi di usus. Sebagian besar orang dewasa juga memiliki bifidobakteri di dalam kolonnya, meskipun jumlahnya tidak sebanyak pada bayi yang diberi ASI. Karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan jumlah bifidobakteri pada kolon orang dewasa ya dengan mengonsumsi probiotik.

Selain itu, perlu diperhatikan berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai manfaat konsumsi probiotik ini terasa. Misalnya dalam penelitian probiotik untuk merangsang sistem imun, paling lama dalam 21 hari manfaat itu telah dirasakan. Jadi, perlu kesabaran dan ketekunan dalam mengonsumsi produk probiotik.

Semakin jelas rasanya, kalau terbiasa mengonsumsi produk makanan, minuman, atau suplemen kesehatan yang mengandung probiotik, kita akan merasakan banyak manfaat ketimbang mudaratnya. Bahkan, ketika sudah telanjur sering menenggak antibiotik sekalipun. (Rahasia Sehat Di Balik Makanan)

Dibaca 2255 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014