Puncak Suroloyo: Soneta Empat Gunung

author : Agus Surono
Saturday, 24 March 2012 - 05:18 am

Share |
Intisari/Yds

Salah satu patung yang terdapat di Puncak Suroloyo.

Intisari-Online.com - Di seputaran Yogyakarta, Gunung Merapi, Sindoro, Merbabu, dan Sumbing menjadi barometer para pecinta alam. Belum dikatakan naik gunung jika belum sampai puncak-puncaknya. Bagaimana jika Anda tak punya banyak waktu namun ingin merasa dekat dengan keempat puncak itu? Datanglah ke Puncak Suroloyo.

Meski tidak mudah untuk sampai ke Puncak Suroloyo, namun begitu sampai di atas seperti lupa dengan ketidakmudahan tadi. Mencapai puncak ini harus melewati jalan kecil berliku dengan jurang di sisi kanan-kirinya. Sudah bisa dilalui motor, namun untuk mobil harus berhati-hati karena lebar jalannya hanya 3 m saja. Harus berhati-hati sebab alam sekitar begitu indah. Pemandangan khas Pegunungan Menoreh yang berbatu dan bertanah merah, didominasi oleh tanaman keras.

Jika sukses menaklukkan jalan sempit berkelok, masih ada tantangan lain: tangga menuju ke Puncak Suroloyo. Berjumlah (katanya) seribu undakan, tangga ini mengular dari bawah hingga puncak. Begitu sampai tangga terakhir, jumlah undakan seperti tak berarti! Pemandangan sekitar Menoreh menjadi jendela raksasa di tangganya. Jika Anda mendaki pada waktu sekitar Juni – Agustus, sekeliling tangga dan puncak mungkin berkabut. Terkesan mistis namun indah.

Ada tiga pendopo di Puncak Suroloyo. Pendopo pertama ialah Pertapaan Suroloyo. Lokasinya paling bawah dibandingkan dengan dua pendopo lainnya. Dari sini kita bisa melihat Candi Borobudur. Pagi dan sore adalah waktu yang tepat. Jika beruntung, saat subuh akan tersuguhkan spot Candi Borobudur yang pucuknya tertutup kabut samar-samar. Konon, disini Raden Mas Rangsang, yeng kemudian bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo bertapa untuk mendapatkan petunjuk dari Yang Kuasa mengenai masa depan dinastinya di Tanah Jawa. Beberapa orang yang memanfaatkan ketenangan area ini melakukan meditasi. Biasanya mereka menginap.

Pendopo kedua terletak 200 m ke arah barat. Dari pendopo yang diberi nama Pertapaan Sariloyo kita bisa memandang gunung kembar Gunung Sumbing dan Sindoro. Letaknya berhadapan laksana seperti bercermin. Jika jeli dan cuaca cerah, terlihat di kakinya hamparan kebun teh yag menghijau.

Pendopo ketiga harus naik sekitar 200 m lagi. Diberi nama Pertapaan Kaendran, dari tempat ini samar-samar akan terlihat warna biru berbatas dengan abu-abu. Itulah Pantai Glagah di Kulonprogo. Semua pertapaan ini berada dalam satu area berdekatan di kawasan Puncak Suroloyo. Jika ditarik garis, Puncak Suroloyo merupakan satu titik temu antara empat gunung: Merapi, Sindoro, Sumbing dan Merbabu, menjadi kiblat pancering bumi yaitu titik pertemuan dari gunung-gunung di Jawa; menjadi pengikat sekaligus tempat suci bagi beberapa kalangan dan tentu tempat yang menyenangkan bagi penggemar fotografi.

Satu lagi yang sayang dilewati ialah perayaan 1 Suro di Puncak Suroloyo, yaitu pembersihan pusaka warisan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Kyai Manggolo Dewo. Ritual ini sudah dimulai pada malam 1 Suro. Menjelang pagi esok harinya, arak-arakan membawa hasil bumi dan pusaka berangkat dari Dusun Keceme. Para penduduk desa memakai baju adat dan sepanjang jalan penari anak-anak menari berpesta dengan gembiranya. Kelompok seni tradisional sekitar Puncok Suroloyo biasanya berpartisipasi di ritual ini. Walaupun jalan menuju Sendang Kawidodaren berkelok dan curam, tak kerasa capeknya dengan kemeriahan musik kirab puasa ini. Di akhir pembersihan pusaka, hasil bumi yang dibawa akan diperebutkan. Suasana akan rih rendah saat itu karena penduduk lokal berebutan berkah, mereka percaya bahwa dengan membawa hasil bumi ini, tanda bahwa Yang Maha Kuasa juga akan berbaik hati pada mereka setahun ini. 

Bagi penggemar durian, jika musim durian akan mencicipi lezatnya durian local sekitar Puncak Suroloyo, namanya Durian Menorah. Aroma duriannya yang tajam, dengan rasa yang manis dan ukuran dagingnya yang tebal tak berserat dan kesat, rasanya tidak rugi merogoh kocek Rp 20.000,- - Rp 80.000,-/buah untuk mencicipinya. Jika beruntung, bisa mendapatkan durian yang benar-benar matang di pohon. Di sana juga dijual bibit durian bersertifikat dari Departemen Pertanian, sekitar Rp 10.00,- - Rp 35.000,-/tunas dengan usia 6 - 8 bulan. Jenis warna buah bisa memilih kuning atau merah muda. Durian ini adalah salah satu unggulan varietas nasional. Persebarannya tak hanya di Puncak Suroloyo, namun di sekitar Kalibawang.

Untuk menuju ke sana, ada dua rute utama ke Puncak Suroloyo, yaitu lewat Godean dan lewat Magelang. Jika melewati Godean, maka jalurnya Jalan Godean-Sentolo-Kalibawang. Jika melewati Magelang, jalurnya Magelang-Muntilan-Pasar Muntilan-Kalibawang. Dari titik Kalibawang, jalurnya naik menuju puncak. Menyenangkan jika cuaca cerah, banyak yang bisa dilihat dan difoto. Dari Yogyakarta membutuhkan waktu 1,5 - 2 jam.

Jika hendak mendapatkan suasana matahari terbit atau tenggelam, pastikan waktunya cukup ketika sampai sana. Beberapa pengunjung bahkan memilih untuk menginap di Puncak Suroloyo demi mendapatkan “gambar” matahari terbit dan pemandangan Candi Borobudur. Selain tiga pendopo tadi, rumah penduduk juga bisa disewa. Ketika malam 1 Suro, suasana sekitar puncak dan Dusun Keceme ramai karena banyak penduduk sekitar yang berkumpul. (Where To Go: Joglosemar)

Dibaca 4006 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014