Salep Kulit Cenderung Salah Pakai

author : K. Tatik Wardayati
Thursday, 23 June 2011 - 11:00 am

Share |
ask.com

Kulit gatal sebaiknya tidak langsung diberi obat oles.

Kelainan di kulit, entah penyakit atau bukan, cenderung diobati dengan sesuatu yang dioleskan. Boleh dikatakan, sebagian besar jenis obat oles ini merupakan obat bebas sehingga pasar obat jenis ini pun sangat besar. Sayangnya, tidak cukup informasi yang baik bagaimana obat topikal yang sebagian besar berbentuk salep, lotion, atau lainnya itu harus digunakan. Tambahan lagi, indikasi pemakaiannya tidak mudah dimengerti oleh awam. Mereka tidak bisa membedakan antara eksem, dermatitis, kurap, jamur, vitiligo, dan sebagainya.

Karena udara di Indonesia lembap dan panas, maka segala kelainan di kulit sering dianggap jamur. Padahal, banyak kelainan pada kulit bukan disebabkan jamur saja. Namun, hal ini telah dimanfaatkan oleh para produsen sehingga berbagai obat jamur yang dioles di kulit menjamur di pasaran. Banyak di antaranya digolongkan sebagai obat bebas atau bebas terbatas yang dapat dibeli tanpa resep. Akibatnya, banyak pasien menggunakan obat bebas itu dengan indikasi tidak benar.

Sebagai organ tubuh yang sensitif, reaksi kulit bisa segera terlihat dari bentuk dan warnanya. Kelainan itu dapat berupa kering, bersisik, merah, melepuh, ruam, kelainan warna, dan yang sangat mengganggu adalah rasa gatal.

Mengatasi gangguan gatal jelas bukan dengan salep antijamur. Juga, dan terutama, jangan digaruk terlalu keras. Biasanya gatal yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang khusus akan berhenti sendiri bila tidak dirangsang. Sedangkan gatal akibat jamur, sebaiknya didiagnosis dulu oleh dokter. Hanya saja, diagnosis bisa saja menjadi sulit karena perubahan yang ditimbulkan olesan salep sebelumnya.

Semua orang pernah mengalami gatal yang merupakan fenomena menjengkelkan. Namun, bila kita ingin menghilangkannya dengan seketika maka tindakan alamiah menggaruk jelas strategi yang salah. Sebab, begitu Anda menggaruk, apalagi dengan keras maka gatalnya akan meningkat. Selanjutnya, yang biasa kita lakukan adalah mengambil apa saja untuk dioleskan, entah salep antihistamin, minyak angin, minyak kayu putih, bahkan sering juga diberi air panas, abu dapur, dan sebagainya.

Semua ini sesaat akan mengurangi rasa gatal tapi kemudian gatalnya akan menjadi lebih hebat, dan ritual selanjutnya terulang kembali. Dengan demikian lingkaran setan “gatal” itu dipertahankan sehingga kulit semakin rusak.

Stadium selanjutnya ialah menggunakan salep yang mengandung kortikosteroid, seperti hidrokortison, deksametason, betametason, atau yang lebih poten lagi, fluorokortikosteroid (kortikosteroid yang mengandung fluor). Walau sepintas sepertinya tidak berbahaya tapi patut diwaspadai juga.

Pertama, bisa mengakibatkan semacam ketergantungan karena rasa gatal cepat hilang namun cepat kembali lagi dan proses pengolesan terulang lagi. Kedua, efek sampingan akan timbul, meski lambat. Warna kulit yang diolesi berubah seperti merah kehitaman, kulit menjadi sembab, rasa gatal menghebat di sela waktu antara pemberian salep, rambut dapat tumbuh kasar dan tebal di daerah yang biasanya sedikit ditumbuhi rambut, kulit juga akan menebal dan kering bersisik yang disebut neurodermitis. Yang terakhir ini sering timbul di tempat-tempat tertentu, seperti di tengkuk, siku, atau kaki bawah. Keadaan ini tentu sangat mengganggu. Tidur pun sulit, dan dapat berlangsung sampai bertahun-tahun. Selain itu, kita juga dapat terinfeksi oleh garukan kita sendiri.

Singkat kata, bila diserang rasa gatal, pertama-tama jangan terlalu diacuhkan. Bila penyebabnya tidak serius, biasanya gatal akan mereda dan hilang dengan sendirinya. Namun bila dorongan menggaruk tidak tertahankan, sebaiknya bubuhkan bedak salisil dan lupakanlah gatal itu.

Mengingat semua yang dioleskan pada kulit dapat menimbulkan gatal, dan tidak adanya salep tertentu yang cukup aman untuk semua jenis gatal, maka menelan obat antihistamin ½ tablet CTM mungkin lebih baik. Bila ini masih belum menolong, coba telusuri alergen apa kiranya yang menjadi penyebabnya. Atau konsultasikan ke dokter keluarga.

Bila dokter memberi kortikosteroid, tablet, kapsul, atau salep, oleskan paling lama 5 hari. Bila gangguan gatal tak juga surut, hentikanlah pemakaian obat oles tersebut sambil melapor kembali ke dokter.

Seorang guru besar penyakit kulit pernah mengatakan: “Bila gatal, boleh dilihat, dipegang jangan.” Suatu anjuran rasional yang sangat bermanfaat dan ….. hemat.

Dibaca 11348 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014