Di tengah-tengah zaman yang lagi berkembang pesat dan penuh dengan warna-warni persaingan ketat, seperti sekarang. Aktivitas menuntut atau memperoleh ilmu pengetahuan serta teknologi…" />

Sekolah: Antara Negeri dan Swasta

author : Rifki Fauzi
Monday, 23 May 2011 - 04:29 pm

Share |

Di tengah-tengah zaman yang lagi berkembang pesat dan penuh dengan warna-warni persaingan ketat, seperti sekarang. Aktivitas menuntut atau memperoleh ilmu pengetahuan serta teknologi (iptek) agaknya telah mendapat kursi VIP, bahkan menjadi sebuah keharusan. Lebih dari itu ilmupun juga acapkali dijadikan suatu perlombaan menarik, dimana sebagai prinsip utama: siapa menguasai iptek, dialah penguasa dunia. Nah, disini sekolah yang teramat vital keberadaannya kembali menjadi sorotan paling diperhatikan. Karena hanya lewat sekolahanlah, sebagian besar penerus bangsa memulai karirnya dalam mengenyam pendidikan dan menjalani persaingan sehat dalam dunia pendidikan tersebut. Disekolah pula aktivitas serta proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih baik.

Akibatnya, pemilihan sekolah menjadi sebuah momok baru yang tak bisa terelakkan. Beda sekolah sering kali mendapat persepsi kalau kelak outputnya akan berbeda pula. Dan jenis sekolah yang menjadi dilema disini ialah antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Pada dasarnya memang keduanya memiliki bermacam perbedaan karakteristik, meskipun sama-sama sekolah. Yang paling mudah terlihat ialah dari pelaku kegaiatan belajar mengajar disekolah. Pada beberapa sekolah swasta biasanya mengkhususkan sekolahnya untuk suatu agama saja. Misalnya untuk agama Islam, otomatis semua murid dan gurunya beragama Islam. Begitu pula yang sekolah non-muslim, berarti seluruh pengajar dan peserta didiknya non-muslim. Namun demikian, seperti yang telah tersebut tadi bahwa tak semua sekolah swasta menerapkan sistem pengkhususan terhadap muridnya, walaupun menurut pandangan masyarakat hal ini sudah merupakan ciri khas mencolok yang dimiliki oleh sekolah swasta bila diperbandingkan dengan sekolah negeri.Sedangkan diseluruh sekolah negeri, prinsip pengkhususan itu sama sekali tak berlaku. Jadi, disekolah negeri anak dari agama apapun bisa masuk. Hanya saja nanti dalam proses kegiatan belajar mengajar dikelas tetap dipisahkan. Atau dengan kata lain mendapat kelas yang berbeda dari teman-temannya yang tidak sepercayaan. Dan ini dilakukan bukan untuk memutuskan persahabatan sesama murid, melainkan sekedar membuat proses kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar.Lain halnya jika didasarkan dengan kenyataan asumsi kalangan masyarakat terhadap perihal perbedaan sekolah. Sebagaian besar berpandangan bahwa sekolah swasta cenderung dianaktirikan. Sekolah swasta acapkali dicap sebagai tempatnya 'murid-murid buangan' dari sekolah negeri. Artinya, jika seorang anak tidak diterima masuk disekolah negeri, maka sekolah swastalah yang akan menampungnya. Akan tetapi pada realitanya, pernyataan tersebut tidak keseluruhannya benar. Tidak sedikit pula siswa sekolah swasta yang bukan 'buangan' dari sekolah negeri. Ditelisik lebih jauh lagi, pemberian label yang kurang baik pada sekolah swasta, bukan tanpa alasan atau bukti, melainkan juga memiliki latar belakang yang lumayan jelas. Misalnya lulusan sekolah swasta yang pada umumnya berkemampuan intelektual dan moral yang lebih rendah. Berbeda dengan sekolah negeri yang dilihat segi outputnya condong baik, meskipun tidak 100%. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena terkadang disekolah swasta peserta didik kurang mendapat perhatian, dan tata tertib sekolah yang kurang tegas dijalankan.Dikupas lebih dalam, sebenarnya sekolah swasta yang tak menerapkan sistem pengkhususan murid dan guru berdasarkan agama cenderung dinilai lebih buruk ketimbang sekolah yang menjalankan sistem pengkhususan tersebut. Bahkan ada juga yang bisa digolongkan bahwa siswa sekolah swasta 'dibiarkan' begitu saja. Sehingga segala perilaku negatif murid tidak dapat ditindaklanjuti secara cepat dengan arahan atau nasehat. Entah selama kegiatan belajar mengajar berlangsung atau kala jam istirahat. Akibatnya siswa merasa apa yang telah dilakukannya itu benar dan wajar-wajar saja, tidak sadar kalau sebetulnya salah. Dengan demikian perilaku negatif itu justru berkembang kian menjadi-jadi. Beda dengan sekolah negeri yang diwarnai dengan aturan yang serba ketat. Salah sedikit, siswa segera kena tegur. Hasilnya murid jadi mengetahui kesalahannya dan mencoba untuk tidak mengulanginya kembali, karena ia sadar ganjarannya akan lebih keras lagi. Begitu pula selama proses belajar mengajar berlangung, muridnya mau dan mampu untuk menghargai gurunya. Pertama karena kesadaran individu, kedua supaya tidak kena tegur atau hukuman.Namun demikian, sekedar catatan dan untuk mempertegas, bahwa kodisi itu belum tentu berlaku pada semua pelajar, sesuai hukum Pareto 80/20. Yang mana apabila disangkutpautkan dalam konteks ini akan mengandung arti, pada dasarnya yang membuat sekolah negeri disebut-sebut lebih baik itu karena 80% siswanya benar-benar baik, dan sisanya sebanyak 20% mungkin juga tidak baik. Serupa dengan sekolah swasta, yang bisa jadi juga hanya 80% muridnya yang tergolong 'buruk', sedang 20%nya baik.          Perbedaan lain yang mungkin juga menonjol ialah masalah biayanya. Disadari perihal yang menyangkut biaya memang seringkali disandingkan dengan seberapa yang nanti didapat. persis dengan sekolah, seberapa besar biaya yang dicanangkan sekolah, maka fasilitas pendidikan sekolahnya mesti sesuai. Dikembangkan lebih lanjut dari sisi faslitas, nyaris tak ada perbedaan antara sekolah negeri dengan sekolah swasta. Kendati demikian, persoalan biayalah yang sebetulnya menjadikan different antara sekolah negeri dengan sekolah swasta. Menyangkut fakta itu, problem sumber pendapatan sekolah sendiri yang menentukan. Kalau disekolah negeri mungkin biaya lebih murah, atau bahkan ada yang gratis. Sebab sekolah negeri sepenuhnya dinaungi oleh pemerintah. Pemerintah itu sendiri sering banyak memberikan bantuan kepada sekolah negeri. Kontras dengan sekolah swasta yang masih tergantung dari pembayaran murid-muridnya. Yang mana keberadaannya tidak penuh dinaungi oleh pemerintah, tapi oleh swasta. Sedangkan boleh jadi bantuan pemerintah tak sebanyak sekolah negeri dan dari pihak swasta mungkin lebih sedikit. Sehingga biaya pendidikan yang dipatok oleh sekolah swasta terhadap siswanya pun lebih banyak.        Dari beberapa ciri khas yang dimiliki sekolah swasta dan sekolah negeri, seperti yang telah dijabarkan diatas, tentu didalamnya masih ada banyak kelebihan dan kekurangan lainnya yang tak terlihat secara kasat mata. Namun yang jelas keduanya mampu melahirkan generasi penerus yang tangguh disegala kondisi, bermoral dan berbudi pekerti baik, serta bermental pemimpin. 

Dibaca 2137 kali
Share |
comments powered by Disqus
Login, Not yet registered
Kompas Gramedia Magazine copyright@2014